Scroll untuk baca artikel
banner 350x300
Example floating
Example floating
BeritaTajuk & Opini

[Tuan Rumah Penas 2026] Membaca Peran Fadel, Gobel, Gusnar & Tanggung Jawab Sofyan Puhi

14
×

[Tuan Rumah Penas 2026] Membaca Peran Fadel, Gobel, Gusnar & Tanggung Jawab Sofyan Puhi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60
Oleh : Jeffry Rumampuk / Founder Butota

BUTOTA – OPINI, Tidak ada kisah Gorontalo modern yang bisa diceritakan tanpa memulai dari satu nama, Fadel Muhammad. Ketika Gorontalo resmi menjadi provinsi pada Desember 2000, ia mewarisi sebuah wilayah tanpa identitas ekonomi yang jelas. Fadel bisa saja memilih jalan mudah dengan mengandalkan bantuan pusat, meratapi keterbatasan infrastruktur, atau sekadar menjalankan pemerintahan biasa. Tapi, Hari itu Fadel memilih jalan yang berbeda.

Pada 8 Maret 2002, ia mencanangkan Program Agropolitan. Sebuah revolusi agraria yang menempatkan jagung hibrida sebagai tulang punggung ekonomi Gorontalo. Bukan sekadar slogan, Fadel membangun jalan ke sentra-sentra produksi, menjamin akses benih unggul dan pupuk bersubsidi bahkan membawa petani dan para camat belajar langsung ke Jawa dan Thailand. Hasilnya, Gorontalo berhasil menciptakan benih jagung unggulan sendiri yang diberi nama Lamuru FM, dan sejak 2002 mulai mengekspor jagung ke Malaysia dan Korea Selatan.

Advetorial

“Dari 50 ribu ton menjadi 750 ribu ton,  hasilnya nyata. Tidak ada sihir di sana. Hanya akal sehat, keberanian, konsistensi, dan integritas.”

Di sisi Fadel selama perjalanan itu berdiri Gusnar Ismail, Wakil Gubernur yang menemaninya. Gusnar bukan figur asing di dunia pertanian dan jauh sebelum menjadi politisi, Gusnar adalah Kepala Dinas Pertanian Kota Gorontalo, yang memahami bahasa ladang dan bukan sekadar bahasa kebijakan. Ketika Fadel berangkat ke Jakarta menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan pada 2009, Gusnar yang mewarisi tampuk gubernur  bersama seluruh beban dan potensi yang ditinggalkan pendahulunya.

Namun sejarah tidak berjalan lurus karena di balik kejayaan statistik produksi, ada paradoks menyakitkan yang terus menghantui Gorontalo. Provinsi yang menghasilkan jutaan ton jagung ini, justru konsisten bertengger di lima besar provinsi termiskin Indonesia.

Persoalannya bukan soal hasil panen, melainkan pada Jagung Gorontalo yang diproduksi berlimpah, namun rupiahnya mengalir ke tangan pedagang dan eksportir dan bukan ke petani kecil yang mengelola lahan kurang dari satu hektare.

Hilirisasi yang lemah, ketergantungan pada satu komoditas dan absennya industri pengolahan, membuat pertanian Gorontalo maju secara kuantitas namun stagnan secara kesejahteraan. Rasio yang semula 0,265 pada 2002 melebar menjadi 0,392 pada 2025, dan itu adalah sebuah sinyal nyaring bahwa pertumbuhan tidak merata.

“Gorontalo membutuhkan sebuah giant steps atau quantum leap untuk menggairahkan kembali ekonominya.” Fadel Muhammad

Di sinilah Fadel Muhammad, yang kini duduk sebagai Senator DPD RI dari Gorontalo, tidak berdiam diri dan kembali bersuara, mendorong gagasan Lumbung Pangan Nasional yang dipusatkan di Kabupaten Pohuwato.

Fadel menginisiasi pertemuan dengan Kementerian Pertanian dan para stakeholder jagung, bahkan menyerahkan studi khusus tentang kemampuan Gorontalo kepada Penjabat Gubernur, sebelum Gusnar dilantik kembali. Fadel tidak mau warisan tangannya hancur begitu saja oleh problem struktural yang tak kunjung diselesaikan.

Sementara Fadel bekerja dari jalur senator, ada satu tokoh lain yang memilih pendekatan berbeda dengan cara yang  lebih struktural, lebih jangka panjang, dan mungkin lebih ambisius. Rahmat Gobel, Anggota DPR RI Dapil Gorontalo.

Pada 2021, ia meluncurkan Visi 2051, sebuah cetak biru yang menempatkan Gorontalo sebagai Kota Agropolitan dengan tiga pilar utama. Yakni, pertanian-perkebunan-peternakan-perikanan, UMKM, serta pangan dan herbal. Visi ini bukan sekadar wacana. Politisi yang arab disapa RG ini, memproyeksikan investasi lebih dari Rp835 triliun, penciptaan 100 ribu lapangan kerja dari hulu ke hilir, dan menjadikan Kawasan Industri Anggrek sebagai pusat pengolahan produk pertanian dan perikanan untuk pasar Asia Timur — Jepang, Korea Selatan. Tentunya dengan target, Melempar jauh Gorontalo dari termiskin kelima menjadi termakmur kelima secara nasional.

Gobel paham betul bahwa data dan retorika saja tidak cukup, sehingga dia turun langsung dengan menggalang kerjasama pertanian kedelai antara Kabupaten Gorontalo dan Sukabumi, memperjuangkan anggaran renovasi Menara Pakaya Rp7,8 miliar jelang PENAS, hingga menggelar Sosialisasi 4 Pilar yang dirangkaikan dengan digitalisasi koperasi desa. Di depan pengurus koperasi di Limboto Barat, ia berkata tegas: “Apa arti Pancasila jika masyarakat kita tetap miskin?”

“Sudah terlihat ada cahaya dan bibit-bibit kemajuan. Syaratnya bersatu dan simpan warna-warna partai.” Rahmat Gobel.

Pada 20 Februari 2025, Gusnar Ismail resmi dilantik kembali sebagai Gubernur Gorontalo oleh Presiden Prabowo Subianto dan menjadikannya sebagai satu-satunya gubernur yang menjabat di dua periode berbeda dalam sejarah provinsi ini. Sebuah mandat langka, tapi juga beban yang tidak ringan.

Gusnar atau pria yang akrab disapa Ka’ Gun ini,  mewarisi tiga beban sekaligus. Yakni, warisan program jagung Fadel yang perlu diteruskan dan ditingkatkan, visi besar Gobel yang membutuhkan dukungan eksekutif di daerah, dan masalah kemiskinan yang sudah dua dekade lebih belum terselesaikan. Tapi perlu digarisbawahi,  Gusnar bukan pemimpin baru yang belajar dari nol. Dia ada pada saat ruang berbicara, ketika keputusan-keputusan besar itu pertama kali dibuat.

Pemerintahannya langsung bergerak, target produksi jagung 1,5 juta ton di 2026 dicanangkan. Program agro-maritim menjadi salah satu dari lima program unggulan. Kolaborasi dengan Polda Gorontalo untuk pengembangan areal tanam baru 27 ribu hektare dilaksanakan. Dan di bulan November 2025, ia duduk bersama Rahmat Gobel di Kawasan Wisata Tamendao untuk menyatukan visi pembangunan pertanian dan Kesehatan. Sebuah pertemuan informal yang menghasilkan kesepakatan sangat formal, road map bersama yang segera ditindaklanjuti oleh OPD terkait.

PENAS 2026, Panggung Ujian dan Peluang

Maka tibalah Gorontalo pada momen yang tidak datang dua kali, yaitu menjadi tuan rumah PENAS Petani Nelayan XVII pada 20–25 Juni 2026 di Limboto, Kabupaten Gorontalo. Tiga puluh ribu peserta dari seluruh Indonesia dan Presiden Republik Indonesia yang dijadwalkan hadir. Menteri Pertanian dan Menteri Kelautan dan Perikanan yang akan membuka temu wicara, otomatis mata nasional tertuju ke ladang-ladang Gorontalo.

Di sinilah, ketiga tokoh itu bertemu dalam satu panggung sejarah. Fadel, sang arsitek pertama, masih mendorong dari belakang, menjaga agar visi lumbung pangan tetap hidup dan relevan. Rahmat Gobel, sang penyambung antara daerah dan pusat, turun ke lapangan menegaskan bahwa PENAS bukan seremoni. “Penas adalah momentum untuk memperlihatkan potensi pertanian, perikanan, dan UMKM Gorontalo kepada seluruh Indonesia.” Sementara Gusnar, sebagai kapten yang sedang memastikan lapangan gelar teknologi siap 60–70 persen, 6.000 rumah warga disiapkan untuk peserta, dan 220 tenaga medis dikerahkan.

Bahkan maskot resmi PENAS ini pun sudah punya nama, yakni “Te Langi” yang dalam bahasa Gorontalo berarti harapan. Sebuah nama yang terasa tepat untuk sebuah provinsi yang sudah terlalu lama menyimpan potensi tanpa mampu sepenuhnya merayakannya.

Narasi Gorontalo, selama dua dekade ini adalah tentang potensi yang belum sepenuhnya menjadi kemakmuran. Jagung tumbuh, ekspor naik, angka produksi memecahkan rekor tapi petani masih miskin, gini rasio melebar, dan provinsi ini masih terjebak dalam lingkaran yang sama.

Yang berbeda kali ini adalah adanya konvergensi, tiga tokoh dari tiga peran berbeda yang bergerak ke arah yang sama. Fadel memberi fondasi ideologis dan pengalaman lapangan. Gobel memberi visi jangka panjang dan koneksi investasi nasional-internasional dan Gusnar memberi kendaraan eksekutif yang memegang kendali penuh atas mesin birokrasi daerah.

Tentu saja, sinergitas tiga pemimpin ini, tidak otomatis mengubah nasib rakyat. Hilirisasi jagung masih lemah dan ketergantungan pada satu komoditas masih mengancam. Industri pengolahan yang bisa mengangkat nilai tambah petani belum terwujud optimal. Dan kemiskinan tidak bisa diselesaikan oleh PENAS yang berlangsung enam hari saja.

Tapi ada sesuatu yang berbeda di udara Gorontalo hari ini, sesuatu yang lebih dari sekadar aroma jagung yang siap panen. Ada kesadaran kolektif bahwa ketiga tangan ini harus bekerja bersama, bahwa momen nasional harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, dan bahwa “bibit-bibit kemajuan” yang disebutkan Rahmat Gobel itu benar-benar harus tumbuh menjadi pohon.

Tantangannya adalah, apakah Penas 2026 siap menjadi pantulan cermin Gorontalo untuk menatap Petani dan Nelayan di Gorontalo menjadi lebih baik?

Jika kita bisa jujur dengan kondisi daerah hari ini, maka seharusnya ada pejabat lokal harusnya mengevaluasi diri untuk tidak sekedar berbenah menyambut tamu saja. Sebab untuk mengeksekusi niat besar dari ketiga tokoh tersebut, adalah Sofyan Puhi.

Jika Fadel menanam benih, Gobel merawat pohonnya, dan Gusnar yang memanen di tingkat provinsi, maka ada satu tangan lagi yang sesungguhnya paling dekat dengan akar, yaitu Bupati Kabupaten Gorontalo. Karena di daerah termiskin keempat se Sulawesi inilah, hamparan jagung terluas berada. Di sinilah para petani kecil itu tinggal, bekerja, dan menunggu. Di sinilah kesejahteraan itu harus benar-benar mendarat bukan di angka statistik, melainkan di meja makan rumah petani.

Sofyan Puhi, saat ini memang tidak tinggal diam. Dia turun ke lapangan bersama Gubernur Gusnar menemui petani di Desa Suka Makmur dan mensosialisasikan program pembelian jagung oleh Bulog, seharga Rp5.500 per kilogram sebagai jaminan harga dasar bagi petani. Bahkan Sofyan ikut menanam jagung serentak secara virtual bersama Kapolri di Desa Isimu Selatan, sebagai wujud sinergi ketahanan pangan serta hadir langsung di peresmian gelar teknologi pertanian PENAS, bersama Gubernur dan jajaran TNI-Polri.

Jika kita melihat program Sofyan Puhi untuk petani di Kabupaten Gorontalo, maka ada beberapa poin yang bisa dilampirkan. Yakni, 205 Koperasi Merah Putih sebagai motor ekonomi petani di tingkat desa. Dengan 55 titik pembangunan fisik sudah berjalan dan 5 unit telah beroperasi 100 persen per Mei 2026.

Kedua, Gerakan Pangan Murah untuk 68.000 penerima manfaat untuk memastikan keterjangkauan pangan bagi masyarakat yang paling rentan. MoU Garudafood yang diinisiasi Rahmat Gobel, dalam rangka menjamin kepastian pasar kacang tanah petani Desa Tilihuwa, agar petani tidak lagi bertanam tanpa kepastian pembeli. Modernisasi infrastruktur irigasi dan pendampingan intensif petani, termasuk kesiapan menghadapi ancaman musim kemarau 2026 yang dipersiapkan sejak jauh hari. Desa Cantik 2026, sebagai penguatan data desa bersama BPS agar perencanaan pembangunan lebih tepat sasaran dan berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat. Dan target IPM dan pertumbuhan ekonomi naik bertahap hingga 2029, melalui RKPD yang sudah mulai disinkronkan untuk tahun anggaran 2027.

“Ini bukan lagi sekadar menjalankan tugas pusat, tetapi sudah mendarah daging sebagai prioritas daerah. Kami ingin Kabupaten Gorontalo menjadi lumbung pangan yang tangguh dan berkelanjutan.” Sofyan Puhi – Saat panen raya ketahanan pangan, Januari 2026.

Namun kejujuran sepertinya mengharuskan kita bertanya lebih jauh, apakah program-program itu adalah langkah yang benar ?  Tapi apakah cukup? Koperasi Merah Putih baru beroperasi, dan belum terbukti mampu memutus rantai tengkulak yang selama puluhan tahun menjepit petani. Jaminan harga Bulog Rp5.500 per kilogram memberi kepastian dasar, tapi para eksportir dan feedmill masih membeli di Rp5.750–Rp7.000 per kilogram. Sebuah angka selisih yang seharusnya bisa lebih besar mengalir ke kantong petani, bukan ke perantara.

Kembali lagi, Jika Fadel menanam benih, Gobel merawat pohonnya, Gusnar yang memanen di tingkat provinsi, maka pertanyaan paling jujur yang harus dijawab Sofyan Puhi adalah kapan petani di Kabupaten Gorontalo benar-benar merasakan panen itu di dompet mereka?

Sofyan Puhi menyebut “desa adalah tumpuan akhir dari seluruh program.” Kalimat itu benar secara konseptual. Tapi tumpuan bukan hanya tempat program bermuara, sebab tumpuan adalah tempat program harus membuktikan dirinya. Dan di desa-desa Kabupaten Gorontalo, pembuktian itu belum selesai. [***]

Example 120x600
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *