Oleh ; Sari Dewi Kusuma, M.Pd., Konselor Sekolah
BUTOTA, OPINI – Hampir setiap murid SMA di Indonesia pernah mengikuti seminar anti-narkoba. Lengkap dengan foto-foto mengerikan, statistik menakutkan, dan narasumber yang berbicara dengan nada mengancam. Dan hampir setiap penelitian tentang efektivitas pendekatan ini menunjukkan hasil yang sama, tidak cukup bekerja.
Psikologi remaja memiliki satu karakteristik dominan yang sering diabaikan oleh perancang program: reaktansi. Semakin keras seseorang dilarang dan diancam, semakin kuat dorongan untuk membuktikan otonomi diri. Program berbasis rasa takut tidak hanya kurang efektif dalam beberapa kasus, justru kontraproduktif.
Pendekatan yang terbukti lebih berhasil adalah model berbasis keterampilan hidup mengajarkan anak untuk mengenali tekanan teman sebaya, cara menolak tawaran tanpa kehilangan wajah sosial, berpikir kritis tentang pesan media, dan membangun koneksi emosional yang kuat dengan keluarga dan komunitas.
Sekolah juga perlu dibangun sebagai tempat yang membuat remaja ingin hadir bukan karena takut bolos, tetapi karena di sana ada hubungan bermakna dengan guru dan teman. Koneksi sosial yang sehat adalah pelindung terkuat dari penyalahgunaan zat pada usia muda.
Mari kita pensiunkan model ceramah tunggal dan gantinya dengan kurikulum kesehatan mental yang terintegrasi, fasilitator terlatih, dan ruang aman di mana remaja bisa berbicara jujur tentang tekanan yang mereka hadapi tanpa takut dihakimi. [**]

















