BUTOTA – TAJUK, Ada pola yang menarik dalam karier Sila Haholongan Pulungan, ia tidak lahir dari pusat kekuasaan, melainkan ditempa dari pinggiran republik. Dari wilayah kepulauan terpencil di Maluku hingga ruang-ruang strategis di Kejaksaan Agung, jalannya bukan loncatan, melainkan tanjakan panjang yang terukur.
Kini, Sila Pulungan resmi menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi di Sulawesi Selatan, ujian yang dihadapi bukan lagi sekadar teknis penegakan hukum, melainkan soal kepemimpinan dalam pusaran kepentingan, tekanan politik, dan ekspektasi publik yang tinggi.
Sila Pulungan mengawali karirnya di Kejaksaan pada tahun 1993, ditempatkan di Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan sebagai staf tata usaha. Masuk dipendidikan jaksa pada tahun 1997, Sila muda sudah merantau di 10 Provinsi di Indonesia dan diawal penempatannya adalah timur timur (Sekarang Timur Leste). Tahun 1999 hingga 2001, Sila ditempatkan di Jogjakarta sekaligus melanjutkan pendidikan s2 nya. Setelah itu, Sila kembali ke Jakarta dan ditempatkan sebagai Kasubag di Sekretariat di JAMBIN Kejagung. Dan pada Tahun 2003, kembali dimutasi lagi menjadi Kasubag kerjasama hukum luar negeri di Biro hukum.
Jabatan berikutnya, Sila dipercaya selama 4 tahun 2 bulan di Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan sebagai Kepala Seksi Pidana Khusus, Kantor yang menjadi panggung pertamanya sebagai insan Adhyaksa. Pada Tahun 2009, Sila kembali ke gedung bundar Kejagung sebagai Satuan Khusus penanganan tindak pidana korupsi, selama 2 tahun.
Tahun 2011, Sila diberikan kepercayaan sebagai Pengkaji (Sekarang Jabatan Kordinator,red) Di Kejaksaan TInggi Sumatera Utara. Sekedar informasi, Jabatan pengkaji saat itu hanya 4 diwilayah Provinsi dan hanya ada di 6 Provinsi besar diseluruh Indonesia. Setelah itu, Sila dimutasi di Kejaksaan negeri Dobo Tahun 2012.
Karier Sila Pulungan, mencatat satu fase penting yang kerap luput dari sorotan. penugasan di Maluku, tepatnya di Dobo, Kepulauan Aru. Di sana, ia menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri, sebuah posisi yang jauh dari gemerlap, namun sarat tekanan.
Wilayah seperti Dobo bukan sekadar tempat tugas administratif. Ia adalah ruang di mana hukum berhadapan langsung dengan realitas sosial yang keras, keterbatasan infrastruktur, kuatnya relasi kekuasaan lokal, serta tekanan massa yang sering kali menjadi variabel tak terduga.
Dalam salah satu peristiwa yang mencuat, penanganan perkara yang melibatkan aparat berujung pada aksi kekerasan terhadap jaksa. Namun, proses hukum tetap berjalan. Di titik inilah, karakter Pulungan terbaca. tidak mundur dalam tekanan, tetapi juga tidak mencari panggung. Dia berhasil mengeksekusi Bupati aktif Kepulauan Aru Theddy Tengko, yang terbukti dan dinyataan bersalah melakukan korupsi APBD senilai 42,5 Miliar pada tahun anggaran 2006-2007. Saat itu, faktor keamanan menjadi penentu karena masa pendukung Theddy, sempat memberontak bahkan mengambil paksa Thedy dari tangan Jaksa. Dari sinilah fondasi kariernya terbentuk bukan dari kenyamanan, melainkan dari gesekan.
Selepas 10 Bulan di Dobo, jalur kariernya bergerak naik secara konsisten. Ia masuk ke wilayah strategis sebagai Kajari Ambarawa diwilayah Kejaksaan TInggi Jawa Tengah pada Tahun 2015. Tidak lama berselang, Sila menapakkan kakinya di Bangkok, Thailand sebagai Atase. Sebuah jabatan fungsional jaksa yang ditugaskan pada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) atau perwakilan negara di luar negeri. Sila bertugas mewakili kepentingan hukum Kejaksaan RI, melakukan koordinasi teknis, penanganan perkara lintas negara, serta kerja sama bantuan hukum timbal balik (mutual legal assistance).
Langkah berikutnya sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Denpasar memperluas spektrum kepemimpinannya. Dari ibu kota negara ke pusat pariwisata internasional, ia diuji dalam konteks yang berbeda, bukan hanya hukum tetapi juga citra institusi di ruang publik global.
Perjalanan itu berlanjut sebagai Asisten Pidana Umum di Sumatera Selatan, lalu kembali ke Kejaksaan Agung sebagai Kasubdit Pengamanan Pembangunan Strategis di Direktorat D Intelijen pada tahun 2019. Dan ditahun 2020, Sila dipercaya menjadi Kordinator di JAM Pidum. Disini, membuat Sila kenyang pengalaman dengan menyikat habis 4 bidang di kejaksaan.
Pada tahun 2022, menjabat Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi di Gorontalo dan dijabatan yang sama, Sila naik level sebagai Wakajati Sulawesi Utara. Di fase ini, Sila Pulungan tidak lagi menjadi eksekutor lapangan semata, melainkan pengendali sistem.
Puncaknya di level pusat saat ia dipercaya sebagai Direktur Pertimbangan Hukum di Kejaksaan Agung, posisi yang berperan dalam memberikan opini hukum kepada negara. Ini adalah level di mana hukum bersinggungan langsung dengan kebijakan publik.
Jika ditarik garis besar, karier Sila Pulungan membentuk satu pola yang jarang dimiliki secara utuh yakni kombinasi pengalaman lapangan keras dan posisi strategis di pusat. Dia bukan hanya jaksa penindak, tetapi juga perumus. Bukan sekadar operator hukum, tetapi juga bagian dari arsitektur kebijakan. Namun di titik ini pula, tantangan sesungguhnya dimulai.
Sebagai wilayah hukum, Sulawesi Selatan bukan daerah biasa. Ia adalah simpul ekonomi, politik, dan kekuasaan di kawasan timur Indonesia. Beberapa tantangan nyata yang menanti Pulungan antara lain, kompleksitas perkara korupsi daerah. Sulsel memiliki dinamika perkara korupsi yang melibatkan proyek infrastruktur, relasi politik lokal dan jaringan birokrasi yang luas. Penanganannya menuntut bukan hanya keberanian, tetapi juga presisi.
Berikut, tekanan politik dan elit lokal juga mendominasi. Di wilayah dengan konfigurasi kekuasaan yang kuat, penegakan hukum kerap beririsan dengan kepentingan politik. Di sinilah independensi diuji, apakah hukum tetap berdiri tegak atau justru bernegosiasi. Selanjutnya, Ekspektasi publik yang tinggi. Tantangan nyata di bagian selatan pulau sulawesi ini ada pada masyarakatnya yang kini tidak lagi sekadar menunggu proses hukum, tetapi juga menuntut transparansi, kecepatan dan konsistensi. Sebab, Kesalahan kecil bisa menjadi krisis kepercayaan besar. Dan yang terakhir adalah konsolidasi internal Kejati Sulsel, sebab sebagai pimpinan, Sila harus memastikan soliditas institusi, integritas aparat serta arah penegakan hukum yang seragam. Pekerjaan sunyi memang, tapi menjadi point yang sangat menentukan.
Namun lebih dari itu, Sila Pulungan pasti memahami betul bahwa jabatannya yang diemban kini bukan lagi berbicara tentang administratif. Rekam jejak yang sudah teruji, berikut panjang pengalaman yang dimiliki tentu dapat menyelesaikan problem yang sifatnya kompleksitas itu. Dari Dobo yang sunyi hingga Makassar yang hiruk-pikuk, perjalanan itu kini mencapai babak paling menentukan. Apakah ia akan menjadi sekadar penjaga sistem, atau justru pengubah arah penegakan hukum di kawasan timur Indonesia?
Tentu waktu yang akan menjawab dan satu hal yang pasti, Sulawesi Selatan bukan tempat untuk belajar, melainkan tempat untuk membuktikan. Dan satu hal yang menarik dari suami Ny. Oyes Sila Pulungan ini, yaitu peduli terhadap juniornya. Sila selalu menanamkan Core Values ASN pada setiap Insan Adhyaksa, dengan meminjam quotes dari Jendral Soedirman yakni ” Jangan Korbankan Anak Buahmu Demi Karirmu tapi Korbankan Karirmu Demi Anak Buahmu”.
[REDAKSI]

















