Scroll untuk baca artikel
banner 350x300
Example floating
Example floating
BeritaKab.Pohuwato

Penanganan PETI Teratai Mandek, Aktivis Tuding Penindakan Polres Pohuwato Hanya Pencitraan

×

Penanganan PETI Teratai Mandek, Aktivis Tuding Penindakan Polres Pohuwato Hanya Pencitraan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BUTOTA, KAB. POHUWATO – Persoalan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Teratai, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, terus menuai polemik. Kali ini, kritikan pedas datang dari aktivis Pohuwato, Wahyu Pilobu. Ia menyoroti tajam kinerja aparat penegak hukum, khususnya jajaran Polres Pohuwato yang dinilai lamban dan terkesan tutup mata atas aktivitas ilegal tersebut.

Tidak hanya sekadar menyoroti keberadaan tambang ilegal, Wahyu dengan tegas mempertanyakan langkah konkret penindakan yang dilakukan oleh Polres Pohuwato. Menurutnya, selama ini aparat seolah melakukan pembiaran.

Advetorial

“Bukan cuma soal keberadaan PETI di Teratai yang saya kritik, tapi langkah penindakan Polres Pohuwato. Mulai dari pengawasan yang lemah sampai sikap abai mereka selama ini,” tegas Wahyu

Lebih jauh, Wahyu menguliti rentetan aksi penyitaan alat berat oleh Polres Pohuwato. Selama ini, kata dia, publik kerap disajikan dengan tontonan penangkapan ekskavator hingga halaman Mapolres Pohuwato dipenuhi alat berat.

Ironisnya, barang bukti tersebut diduga mandek dan tak kunjung dilimpahkan ke pihak Kejaksaan. Hal yang lebih janggal, jumlah tersangka atau pemilik pemodal yang ditahan sangat minim, berbanding terbalik dengan banyaknya jumlah alat berat yang disita.

“Mapolres Pohuwato itu sudah penuh dengan tumpukan alat berat dari aktivitas PETI. Tapi sampai sekarang diduga belum dilimpahkan ke Kejaksaan. Anehnya lagi, yang diamankan cuma alatnya, pemiliknya nyaris tak tersentuh. Pertanyaan saya, aksi tangkap-tangkap ini murni penegakan hukum, seremonial belaka, atau sekadar pencitraan?” tambahnya

Wahyu juga membeberkan kekecewaannya terhadap sikap Kapolres Pohuwato. Sebelumnya, ia bersama sejumlah awak media telah berupaya mengonfirmasi langsung ihwal aktivitas PETI di Desa Teratai. Namun, pucuk pimpinan Korps Bhayangkara Pohuwato itu justru memilih bungkam dan tidak memberikan jawaban.

Sikap ini, dinilai Wahyu, sangat kontradiktif. Sebab, saat mengekspos hasil tangkapan atau penyitaan alat, Kapolres tampil begitu lantang di hadapan media seolah hal itu adalah sebuah prestasi besar. Namun, giliran dikonfirmasi secara spesifik mengenai PETI Teratai, nyalinya seolah ciut.

“Kalau mengumumkan tangkapan alat, Kapolres sangat lantang bicara di berbagai media, seakan bangga dan itu jadi prestasi terbesar kepolisian. Tapi giliran dikonfirmasi soal PETI Teratai, malah diam seakan gagu bersuara,” sindirnya.

Di akhir pernyataannya, Wahyu melontarkan dugaan menohok terkait alasan di balik lambannya penindakan tersebut.
“Saya menilai Kapolres Pohuwato terlalu pengecut dalam menindak PETI Teratai. Atau jangan-jangan, Kapolres juga turut menerima manfaat dari aktivitas ilegal itu?” pungkas Wahyu

Hingga berita ini diterbitkan, tim redaksi BUTOTA masih terus berupaya meminta klarifikasi resmi dari Kapolres Pohuwato demi berimbangnya pemberitaan ini. [Adv]

Example 120x600
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *