Scroll untuk baca artikel
banner 350x300
Example floating
Example floating
Blog

Mengurai Sejarah Kantor Pos Gorontalo, Zain Badjeber Perlihatkan Arsip Sejarah 23 Januari 1942

×

Mengurai Sejarah Kantor Pos Gorontalo, Zain Badjeber Perlihatkan Arsip Sejarah 23 Januari 1942

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BUTOTA, GORONTALO – Sejarah Kantor Pos Gorontalo dan eks rumah jawatan kepala kantor, kembali menjadi bagian dari penelusuran peristiwa 23 Januari 1942. Redaksi berupaya untuk menghadirkan kesaksian, mengenai kawasan tersebut. Salah satunya disampaikan tokoh hukum dan politik nasional sekaligus mantan anggota DPR/MPR RI yang memiliki keterkaitan dengan sejarah Gorontalo, H. Zain Badjeber.

Dalam wawancara, Zain Badjeber tidak hanya mengisahkan kembali rangkaian peristiwa 23 Januari 1942, tetapi juga memperlihatkan sejumlah foto lama yang masih disimpannya. Salah satu yang dibahas adalah keberadaan Kantor Pos Gorontalo dan bangunan lama di sebelahnya yang selama ini dikenal sebagai rumah jawatan.

Advetorial

Menurut Zain Badjeber, bangunan tersebut memang berkaitan dengan fungsi jawatan pada masa lalu. Namun, ia menegaskan bangunan itu tidak terkait langsung dengan aksi 23 Januari 1942.

Iklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan Winnet

“Jadi rumah yang di Kantor Pos itu tidak ada urusan dengan 23 Januari, tidak disentuh. Dia kan di seberang,” kata Zain Badjeber.

Pria 91 Tahun ini juga meluruskan anggapan mengenai keberadaan Nani Wartabone di sekitar Kantor Pos pada pagi hari 23 Januari 1942. Menurutnya, Nani Wartabone bersama para pemuda tidak datang untuk merebut atau menduduki Kantor Pos.

“Pak Nani tidak merebut kantor pos. Dia cuma lewat,” ujarnya.

Zain Badjeber, saat menerangkan peristiwa sejarah 23 Januari 1942, dengan memperlihatkan dokumen

Zain Badjeber menjelaskan, gerakan awal Nani Wartabone saat itu ditujukan untuk menangkap orang-orang Belanda sebelum dirinya ditangkap oleh pemerintah kolonial. Di kawasan Kantor Pos, terdapat jaringan informasi yang telah dibangun antara Nani Wartabone dan sejumlah orang yang bekerja di lingkungan pelayanan publik. Salah satunya Pendang Kalengkongan yang bertugas di bagian telegraf.

Kawasan tersebut kemudian menjadi salah satu titik yang dilalui Nani Wartabone bersama para pemuda. Situasi berubah, ketika seorang pejabat kepolisian Belanda melintas dan melihat kerumunan pemuda, Pejabat tersebut kemudian ditangkap.

“Pokoknya cuma mau menangkap orang Belanda,” kata Zain Badjeber.

Dari Penangkapan Menuju Pernyataan Kemerdekaan

Zain Badjeber mengatakan, perubahan arah gerakan baru terjadi setelah sekitar pukul 10.00 pada 23 Januari 1942.

Setelah sejumlah orang Belanda ditangkap, para tokoh dan pemimpin masyarakat kemudian berkumpul dan membahas langkah selanjutnya. Dari pertemuan itu, gerakan yang sebelumnya berfokus pada penangkapan orang-orang Belanda berkembang menjadi keputusan untuk menyatakan kemerdekaan Gorontalo.

Dalam kesaksiannya, Nani Wartabone kemudian menyampaikan pernyataan mengenai kemerdekaan Gorontalo. Setelah itu dibentuk pucuk pimpinan pemerintahan dengan Nani Wartabone sebagai ketua dan Kusno Danupoyo sebagai wakil.

Kesaksian tersebut menempatkan rangkaian 23 Januari 1942 dalam dua fase. Aksi pada pagi hari diawali dengan upaya menangkap pihak Belanda, sementara keputusan menuju pernyataan kemerdekaan muncul setelah pertemuan para tokoh pada sekitar pukul 10.00.

Zain Badjeber, saat menerangkan peristiwa sejarah 23 Januari 1942, dengan memperlihatkan dokumen

Simpan Foto Sejarah 23 Januari

Dalam keterangannya, Zain Badjeber juga memperlihatkan sejumlah foto dokumentasi lama yang berkaitan dengan peristiwa 23 Januari 1942. Ia menyebut Uhabu Luati sebagai salah satu sumber penting dalam pengetahuannya mengenai sejarah tersebut. Zain Badjeber juga mengaku beberapa kali melakukan wawancara langsung dengan Nani Wartabone.

Menurutnya, foto-foto yang berkaitan dengan peristiwa 23 Januari 1942 memiliki nilai penting karena tidak banyak orang yang masih menyimpannya.

“Saya punya foto-foto 23 Januari 1942,” ungkapnya.

Dokumentasi tersebut kemudian diperlihatkan dalam wawancara sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali ingatan mengenai peristiwa bersejarah yang terjadi di Gorontalo.

Kesaksian Zain Badjeber, sekaligus memberikan penjelasan mengenai posisi Kantor Pos dan bangunan di sekitarnya. Kantor Pos disebut menjadi lokasi yang dilalui Nani Wartabone dalam rangkaian aksi penangkapan terhadap pihak Belanda. Sementara bangunan di sebelahnya, pada kesaksiannya, tidak disentuh dan tidak berkaitan langsung dengan aksi tersebut.

Arsip foto dan kesaksian para pelaku maupun saksi sejarah menjadi bagian penting dalam membaca kembali peristiwa 23 Januari 1942, terutama untuk membedakan lokasi yang benar-benar menjadi bagian dari suatu peristiwa dengan bangunan yang hanya berada di kawasan yang sama.

Zain Badjeber, saat menerangkan peristiwa sejarah 23 Januari 1942, dengan memperlihatkan dokumen

Sementara itu, Eks Rumah Jawatan Kantor Pos Gorontalo disebut tidak tercatat sebagai cagar budaya dalam Data Pokok Kebudayaan (Dapobud) Kementerian Kebudayaan. Dalm data yang berhasil dihimpun,  terdapat sejumlah objek di Gorontalo yang tercatat sebagai cagar budaya. Di antaranya Benteng Otanaha, Benteng Ulupahu, Benteng Otahiya, Kantor PT Pelni, Makam Nani Wartabone, Makam Raja Blongkod, Masjid Ar Rahman Bulila, Benteng Orange, Rumah Tua, serta Kantor Pos Kota Gorontalo.

Sementara itu, Eks Rumah Jawatan Kantor Pos Gorontalo tidak tercantum dalam daftar tersebut sebagai cagar budaya. Objek itu tercatat dengan status objek diduga cagar budaya (ODCB). Perbedaan status tersebut, menjadi sorotan karena saat ini persoalan Eks Rumah Jawatan Kantor Pos Gorontalo tengah ditangani aparat kepolisian.  [MH/Z]

Example 120x600
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *