Scroll untuk baca artikel
banner 350x300
Example floating
Example floating
Lifestyle

Krisis Eropa Jadi Peringatan, Ketahanan Pangan dan Energi Indonesia Kembali Disorot

×

Krisis Eropa Jadi Peringatan, Ketahanan Pangan dan Energi Indonesia Kembali Disorot

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BUTOTA LIFESTYLE – Sejumlah negara Eropa mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman krisis berkepanjangan. Ketegangan geopolitik, gangguan pasokan energi, hingga kenaikan biaya hidup menjadi tantangan yang mendorong pemerintah di kawasan tersebut menyiapkan langkah antisipasi.

Kondisi ini turut menyoroti pentingnya ketahanan pangan dan energi bagi Indonesia, terutama di tengah upaya pemerintah menjalankan program swasembada pangan dan kemandirian energi yang menjadi salah satu agenda Presiden Prabowo Subianto.

Advetorial

Dilansir dari Warta Ekonomi yang mengutip Reuters, pemerintah Inggris telah mengimbau masyarakat untuk menyiapkan persediaan kebutuhan pokok, termasuk makanan dan air minum, guna menghadapi kemungkinan keadaan darurat.

Langkah serupa dilakukan Jerman. Mengutip CNN Indonesia yang merujuk pada Turkiye Today dan AFP, pemerintah Jerman menerbitkan panduan kesiapsiagaan bertajuk “Bersiap Menghadapi Krisis”. Panduan tersebut berisi daftar kebutuhan logistik yang perlu disiapkan masyarakat untuk menghadapi situasi darurat, termasuk dampak ketegangan perang Rusia-Ukraina.

Ancaman krisis juga membayangi sektor energi. Dilansir dari Alinea.id yang mengutip Al Jazeera, Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, memperingatkan potensi gangguan pasokan energi global akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah.

Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz, jalur strategis distribusi minyak dan gas dunia. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi, khususnya bagi negara-negara yang bergantung pada impor.

Dampaknya tidak hanya menyentuh sektor energi. Mengutip *Kompas* yang merujuk pada analisis S&P Global, gangguan rantai pasok energi yang disertai anomali cuaca El Nino berpotensi meningkatkan risiko krisis pangan global pada periode 2026–2027.

Tekanan ekonomi tersebut juga memicu keresahan masyarakat di sejumlah negara Eropa. Sepanjang Oktober 2026, aksi demonstrasi dilaporkan berlangsung di Austria, Jerman, hingga Albania, dengan persoalan biaya hidup menjadi salah satu pemicunya.

Situasi di Eropa menjadi pengingat bahwa ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri dapat meningkatkan kerentanan ekonomi ketika terjadi konflik atau gangguan distribusi global.

Di Indonesia, pemerintah tengah mendorong peningkatan produksi pangan melalui perluasan lahan pertanian dan pencetakan sawah baru. Upaya tersebut melibatkan Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum sebagai bagian dari pelaksanaan Inpres Nomor 14 Tahun 2025.

Sementara di sektor energi, pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak. Sejumlah program yang didorong antara lain penerapan biodiesel B50 dan pengembangan bahan bakar berbasis etanol E50.

Kedua sektor tersebut menjadi bagian dari agenda swasembada pangan dan energi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pelaksanaannya diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional ketika harga komoditas dunia mengalami gejolak.

Kondisi yang dihadapi Eropa menunjukkan bahwa persoalan pangan dan energi bukan hanya menyangkut kebutuhan ekonomi, tetapi juga kesiapan sebuah negara menghadapi krisis. Bagi Indonesia, tantangannya adalah memastikan program kemandirian tersebut berjalan efektif dan mampu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri. [RAM]

Example 120x600
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *