Scroll untuk baca artikel
banner 350x300
Example floating
Example floating
Lifestyle

Downgrade Lifestyle, Kelas Menengah Pangkas Pengeluaran Demi Bertahan

×

Downgrade Lifestyle, Kelas Menengah Pangkas Pengeluaran Demi Bertahan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BUTOTA LIFESTYLE – Tren downgrade lifestyle atau menurunkan standar gaya hidup mulai mewarnai pola konsumsi masyarakat kelas menengah Indonesia. Di tengah tekanan biaya hidup, masyarakat kini lebih selektif dalam berbelanja, mulai dari mengurangi nongkrong di kafe hingga menunda pembelian ponsel dan pakaian baru.

Dilansir dari Benang.id, sejumlah pekerja urban memilih beralih dari kopi kafe ke kopi saset, menghentikan langganan aplikasi hiburan, serta membawa bekal dari rumah untuk menekan pengeluaran harian.

Advetorial

Langkah ini bukan sekadar perubahan gaya hidup, melainkan cara masyarakat menyesuaikan keuangan rumah tangga dengan kondisi ekonomi. Disway menyoroti tekanan harga pangan, termasuk cabai rawit yang disebut mencapai Rp90.000 hingga Rp111.000 per kilogram pada Oktober 2026.

Belanja Ponsel dan Fashion Menurun

Perubahan pola konsumsi juga terlihat dalam laporan Mandiri Spending Index (MSI). Dilansir dari Kontan.co.id, belanja masyarakat mengalami perlambatan selama empat pekan berturut-turut, disertai penurunan belanja transportasi sebesar 8,5 persen.

Data MSI yang dikutip Finantara.id dan Boox.id turut menunjukkan penurunan porsi belanja ponsel dari 17,6 persen menjadi 16,3 persen. Sementara itu, porsi belanja pakaian menyusut dari 7 persen menjadi 6,5 persen.

Perlambatan tersebut sejalan dengan data yang disampaikan CNBC Indonesia. Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menyebut pertumbuhan nilai belanja masyarakat melambat menjadi 1,4 persen secara tahunan pada September 2026, dibandingkan 1,8 persen pada Agustus.

Kafe Masih Ramai di Tengah Penghematan

Meski pengeluaran untuk barang tersier berkurang, aktivitas di sektor kuliner belum sepenuhnya surut. Data Mandiri Spending Index mencatat belanja restoran masih tumbuh 5,1 persen secara tahunan, sedangkan porsi belanja kebutuhan pokok di supermarket mencapai 18,1 persen.

CNBC Indonesia menjelaskan, kondisi ini berkaitan dengan fenomena lipstick effect atau small indulgence. Ketika pembelian besar seperti kendaraan, gawai, dan liburan mulai ditunda, sebagian masyarakat tetap menyisihkan uang untuk kesenangan kecil yang lebih terjangkau, seperti menikmati kuliner atau membeli produk perawatan diri.

Mengatur Keuangan di Tengah Tekanan Ekonomi

Fenomena  lifestyle menunjukkan perubahan cara masyarakat memprioritaskan pengeluaran. SerikatNews.com menilai tren ini mencerminkan sikap yang lebih rasional dalam mengelola keuangan sekaligus mengurangi tekanan sosial untuk mempertahankan gaya hidup tertentu.

Sementara itu, ulasan di laman resmi Kementerian Keuangan menekankan pentingnya pengelolaan keuangan rumah tangga dan pengendalian konsumsi. Menunda kebutuhan tersier dapat menjadi langkah untuk menjaga kondisi finansial, terutama ketika pendapatan dan biaya hidup belum seimbang.

Bagi kelas menengah, mengurangi pengeluaran yang tidak mendesak bukan berarti berhenti menikmati hidup. Langkah tersebut menjadi cara untuk menjaga anggaran tetap terkendali dan menghindari ketergantungan pada utang konsumtif, termasuk pinjaman daring dan layanan paylater. [RAM]

Example 120x600
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *