Scroll untuk baca artikel
banner 350x300
Example floating
Example floating
Lifestyle

Ekonomi Gorontalo Tumbuh 5,63 Persen, tetapi Daya Beli Masyarakat Masih Tertekan

×

Ekonomi Gorontalo Tumbuh 5,63 Persen, tetapi Daya Beli Masyarakat Masih Tertekan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BUTOTA, LIFESTYLE – Pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo pada triwulan III-2026 mencapai 5,63 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Angka tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,47 persen. Namun, capaian itu belum sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat di tingkat bawah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo yang dirilis Kepala BPS, Agus Sudibyo, Kamis (5/11/2026), pertumbuhan ekonomi daerah mengalami perlambatan dibandingkan triwulan II-2026 yang mencapai 6,20 persen.

Advetorial

Di tengah pertumbuhan tersebut, konsumsi rumah tangga justru mengalami penurunan sebesar 0,11 persen secara kuartalan (quarter-to-quarter/q-to-q). Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas ekonomi belum sepenuhnya diikuti oleh penguatan belanja masyarakat.

Dari sisi lapangan usaha, sektor pertambangan dan penggalian menjadi salah satu pendorong pertumbuhan tertinggi di Gorontalo. Kondisi ini berbeda dengan struktur pertumbuhan ekonomi nasional.

Mengutip pemberitaan CNBC Indonesia dan ANTARA (5/11/2026), ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen pada triwulan III-2026 dengan kontribusi besar dari industri pengolahan yang mencapai 1,20 persen. Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh 8,95 persen.

Dominasi sektor pertambangan di Gorontalo juga memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap ekonomi masyarakat. Sebab, sektor pertambangan cenderung membutuhkan modal besar, sedangkan pertanian, perikanan, dan kehutanan memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat lokal.

Padahal, sektor pertanian masih menjadi bagian penting dalam perputaran ekonomi daerah. Komoditas jagung, misalnya, tercatat memiliki nilai perdagangan mendekati Rp2,9 triliun, sebagaimana dilaporkan Gopos.id pada 6 November 2026.

Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo, menjelaskan bahwa perlambatan ekonomi secara kuartalan dan penurunan konsumsi rumah tangga turut dipengaruhi faktor musiman pada sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan. Kondisi tersebut berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor-sektor tersebut.

Tekanan terhadap daya beli juga terlihat dari perkembangan harga kebutuhan pokok. Berdasarkan data BPS yang dilansir Investor Daily dan Liputan6.com pada 3 November 2026, Gorontalo mengalami deflasi sebesar 0,67 persen secara bulanan pada Oktober 2026. Angka tersebut menjadi deflasi terdalam secara nasional pada periode tersebut.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan inflasi nasional yang mencapai 0,22 persen secara bulanan. Sementara itu, inflasi tahunan Indonesia tercatat sebesar 3,23 persen.

Deflasi di Gorontalo antara lain dipengaruhi penurunan harga sejumlah komoditas pangan, khususnya cabai rawit atau rica. Meski dapat meringankan pengeluaran konsumen, penurunan harga juga perlu dilihat dari sisi pendapatan petani dan pedagang.

Dengan konsumsi rumah tangga yang masih terkontraksi, perputaran uang di pasar tradisional dan sektor UMKM menjadi perhatian tersendiri.

Menjelang akhir tahun anggaran 2026, percepatan realisasi belanja pemerintah daerah, terutama belanja modal, diharapkan dapat mendorong aktivitas ekonomi. Dukungan terhadap sektor pertanian, perikanan, dan UMKM juga diperlukan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat dalam angka statistik, tetapi turut dirasakan masyarakat.

Pertumbuhan 5,63 persen menjadi capaian penting bagi Gorontalo. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut mampu meningkatkan pendapatan, memperluas kesempatan kerja, dan memperkuat daya beli masyarakat. [RAM]

Example 120x600
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *