DEBUTOTA, TAJUK – Seminggu berlalu, Jelita yang sudah mengontrak kamar kost kecil dibilangan kota Serambi itu, menjalankan aktifitasnya seperti biasa. Paginya ke kantor, sore pulang dan begitu aktifitas membosankan yang dijalani. Lama tak bertegur sapa dengan Juna, membuat Jelita ingin merasakan rindu kasih sayang pria paruh baya itu lagi. diam-diam Jelita curi pandang dari jendela ruangan, ketika Juna tiba dikantor dengan mobil dinasnya.
Ingin rasannya dia menyapa Juna, namun dia tahu kalau itu dilakukan dikantor, maka akan menjadi bahan pergunjingan rekan se kantor. Apalagi, psikologi Juna yang sementara membencinya, memungkinkan suasana akan menjadi repot, gumamnya.
Tiba saat istirahat siang, Jelita melihat Juna keluar dari kantor menuju mobil dinasnya. Jelita yang sedari tadi menatap juna dibalik tirai jendela ruangannya, melihat Juna masuk lagi kekantor dan membiarkan mobilnya menyala. Entah apa yang ada dibenakknya, melihat tidak ada sopir yang standby, Jelita tiba-tiba langsung mengambil tas kecilnya dan berlari segera menuju mobil Juna. Setelah melihat sekeliling dan peluang, Jelitapun masuk kedalam mobil Juna melalui pintu samping tanpa dilihat orang.
Juna yang mengambil catatan kecilnya yang kelupaan, segera kembali menuju mobil. Dia memberi kode kepada sopirnya untuk tidak ikut, karena dia beralasan hanya ingin kerumah saja. Juna pun kembali kemobil tanpa mengetahui sosok kecil sintal yang duduk bersembunyi dibelakang kursinya.
Pelan-pelan Juna mengenderai mobil, menuju sebuah tempat dipinggiran kota. Setibanya ditujuan, Juna kemudian keluar dan langsung menuju kepada seseorang yang pria muda dan yang rupanya telah sekian lama menunggunya. Setelah saling sapa, keduanya terlihat serius berdiskusi sembari saling memperlihatkan beberapa catatan yang menjadi inti pertemuan tersebut.
Jelita yang sedari tadi bersembunyi didalam mobil Juna, ternyata memperhatikan kedua pria itu dari kejauhan. Jelita perlahan mulai mengenali pria lawan diskusinya Juna itu. Alam ingatnya mulai menyerimak perlahan siapa pria bersama Juna itu, ternyata pria muda itu bernama Apurut, bawahan si Aparat, kekasih gelapnya. Ada apa dengan mereka berdua..?? kenapa bertemunya dipinggiran kota seperti ini…?? berkas apa yang diperlihatkan Apurut kepada Juna…??? Sepertinya mereka serius, Geliat dalam pikiran Jelita, mencoba berspekulasi.
Jelita tiba-tiba mengambil tempatnya yang tadi untuk bersembunyi, setelah melihat Juna mulai beranjak dan bersalaman dengan Apurut. Terlihat Apurut tersenyum kecil, melihat Juna mulai berlalu secara perlahan dari pandangannya. Dirinya, bergegas mengambil handphonenya dan mencari nama atasannya, Aparat. “Halo Pak, sudah selesai pak, tadi si kadis sudah kelihatan ketakutan,” bilang Apurut kepada Aparat diseberang telfonnya.
Juna, yang mengemudi mobilnya terlihat gelisah. sesekali dia memukul setir mobil untuk mengungkapkan kekesalannya. Jelita yang terdiampun kebingungan, ingin sekali dia keluar dari tempat persembunyiannya, namun dia takut suasan Juna yang lagi marah, akan membuat posisinya semakin tersudutkan. Tapi, rasa rindu telah mengalahkannya, sehingga dia keluar dari tempat persembunyiannya itu.
” Aku melihat semua pertemuan tadi pak, ” Bilang Jelita tiba-tiba. Juna yang kesal itu, kaget bukan kepalang, ada siapa didalam mobilnya, karena dia sadar, tidak ada yang ikut dengannya. Jelita pun langsung melompat ke kursi kiri depan sambil mengeluarkan senyum manis penawar perasaan Juna. Juna yang kaget tiba-tiba langsung menepikan mobilnya dan berteriak marah kepada Jelita. Mau apa kamu disini…? Sejak kapan kamu dimobil ini…? banyak pertanyaan Juna kepada Jelita yang terlihat tenang dan kelihatan sangat menenangkan itu.
Jelita mengeluarkan jurus cemberutnya, membuat Juna tak berdaya. Akhirnya, juna bertanya dengan nada pelan. ” Saya ini marah sama kamu Jelita, kenapa kamu ikuti saya, lalu sejak kapan kamu ikut naik dimobil saya,” Tanya Juna. Jelita menjawabnya dengan santai, Aku rindu pak,” Singkat Jelita.
” Lalu, kamu mau kemana, biar saya antar,”, “Tidak usah antar kemana-mana pak, saya mau dengan bapak beberapa jam lagi,”
“Saya harus segera ke kantor, ada rapat dengan kabid-kabid sekarang, Tidak bisa,”
Singkat cerita, Jelita diturunkan diparkiran rumah makan dekat kantor Diknas Serambi. Dengan kesal, Jelita keluar dan membanting pintu mobil agak keras.
” Jel, jelita. Ini uang untukmu,” Kata Juna sembari mengeluarkan Tujuh lembar uang seratus ribu. Jelita pun langsung mengambil uang itu, dia ingat, tabungannya mulai menipis lantara sudah tidak mendapatkan uang dari Juna setelah sekian lama.
KORUPSI KEPALA DINAS, JADI SENJATA JELITA
Setelah ditinggalkan Juna, Jelita melambaikan tangan memanggil bentor kosong yang kebetulan lewat didepannya. ” Ke Kantor Diknas om,” Tunjuk Jelita kepada pengemudi bentor itu.
Dalam perjalanan menuju kantornya, dia masih memikirkan pertemuan Juna dengan Apurut itu. Apurut adalah bawahan kekasihnya, yang sesekali menjadi penghubung jika Aparat berhalangan atau sekedar menyampaikan pesan dan bingkisan dari Aparat untuknya. Jelita pun terfikir untuk menghubungi Apurut, dengan niat mencari tahu apa inti pertemuan mereka tadi.
Apurut yang keheranan, melihat nama yang muncul dihandphone, memanggilnya.
” Halo, kenapa bu Jel,” Sapa Apurut seperti biasa. ” Rut, dimana kamu, aku ingin bertemu,” Bilang jelita singkat. “ kapan bu, dimana,” Sekarang ya, Di Dumintis,” jawab Jelita singkat.
Jelitapun memerintah pengendara bentor untuk kembali ditempatnya tadi dijemput,
Setibanya di restoran Dumintis, Apurut memperhatikan sekeliling mencari wanita yang tadi menelponnya. Dikejauhan, terlihat perempuan cantik khas sulawasih utara itu melambaikan tangan kepadanya. Dengan mantap, Apurut menuju meja itu, dan membalas lambaian tangan Jelita.
Dipertemuan itu, Jelita akhirnya mengorek isi pertemuan dengan Juna dengan Apurut. Sebenarnya Apurut tidak mau memberitahukan isi diskusi tadi, namun karena dipaksa jelita, akhirnya dia membuka apa isi pertemuannya tadi dengan Juna.
“Karena kamu dekat dengan bosku, jadi saya Cuma bisa buka sedikit yah, Pertemuan tadi itu atas perintah bosku , mengenai penyalahgunaan anggaran di kantormu. Lumayan besar, dan itu yang main adalah Kepala Dinas dan Kabidnya,” Bilang Apurut dengan nada suara rendah sambal berbisik.
“ Boleh berapa, anggaran itu,” “ Lumayan, sekitar 700 sampai 800 juta” Jawab Apurut.
“ Oh, boleh saya tahu, uang sebesar itu digunakan untuk apa,” Pinta Julita. “ Untuk perdis dan pengadaan untuk sekolah-sekolah bu,” Jawab Apurut.
Mendapat butiran peluru berharga, akhirnya Jelita tersenyum senang. Dalam pikirannya, dia tinggal menyempurnakan senjata untuk menembak Juna, dengan perkara korupsinya sendiri. “ Baik, terima kasih Apurut, kapan-kapan kita ketemu lagi yah, habiskan pesananmu aku sudah membayarnya,” Bilang Julita. “ Makasih yah,” Jawab Apurut, sambal memandang kepergian Jelita dari belakang.
Sebenarnya, Apurut sangat mengagumi Kecantikan Jelita, sehingga rahasia yang seharusnya disembunyikan, terpaksa disampaikan, demi mencari perhatian Jelita. Dalam pikirannya, si Bos beruntung mendapatkan wanita sempurna itu. Tapi dia tidak tau, kalau wanita pujaannya, juga menjalin hubungan dengan Juna.
Esok hari, Jelita kembali menjalankan aktifitas dikantornya. Pukul 07.00 tepat dia sudah tiba dikantor dan memulai harinya dengan segudang aktifitas membosankan. Dia berencana untuk menghadap Juna, tapi masih mencari peluang tepat untuk bertemu.
“ Selamat pagi pak Juna,” Sapa Jelita Ketika Juna turun dari mobil dinasnya. Juna yang kaget, segera membalas sapaan Jelita dengan gagap. Diperhatikannya disekeliling, sambal meminta Jelita menghadap keruangannya.
“ Kamu keruangan saya sekarang,” Ucap Juna terdengar sedikit tegas. Jelitapun mengangguk manja, “ Siap Pak,”.
“ Setibanya diruangan, Juna menarik tangan Jelita sambal memintanya untuk tidak lagi berbuat seperti diparkiran tadi. Jelita yang tersenyum pun mengatakan kalau dia memang ingin membicarakan sesuatu. Tentu apa yang didiskusikan dengan Apurut adalah maksud Jelita.
“ Aku akan terus begini karena kamu tidak lagi peduli, asal kamu tahu, Pertemuanmu dengan Apurut kemarin sudah aku tahu,” Jelita agak sedikit menekan. “ kalau kamu seperti ini terus, maka aku akan bocorkan ke media kalau kamu sang kadis yang terhormat, sudah korupsi uang rakyat ratusan juta,” Ucap Jelita sambal tidak memberi kesempatan Juna untuk menyela.
Berpura-pura tidak paham, Juna mengelak pernyataan Jelita dengan santai. “ Kamu jangan mengada-ngada, pertemuan kemarin hanya membicarakan tentang program kerjasama dari kantor mereka, jadi tidak ada apa-apa itu,” Kata Juna.
“ Terserah kamu, yang jelas aku lihat kamu marah, sampai-sampai setir mobil kamu pukul seperti itu kan,” ledek Jelita.
“ Begini saja Juna, Aku tidak akan lama diruanganmu. Hanya ingin menyampaikan bahwa Kalau kamu membuatku seperti ini, cuek atau sudah tidak seperti dulu lagi, maka aku tak segan-segan membocorkan kasus korupsimu ke media. Terserah kamu membantah, tapi yang jelas, aku sudah tahu semua. Selamat tinggal,” Tegas Jelita sambal meninggalkan Juna yang pura-pura mengatur tumpukan dokumen dimeja kerjanya.
“ Tunggu Jel, jel tunggu,” Panggil Juna. Tapi Jelita tak menghiraukannya.
[BERSAMBUNG]