Scroll untuk baca artikel
banner 350x300
Example floating
Example floating
Cerita Pendek

Saya Juga Orang Seperti Anda [Cerpen]

435
×

Saya Juga Orang Seperti Anda [Cerpen]

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Hujan sore itu membasahi jendela redaksi koran lokal tempat Ardi bekerja. Suara tetesan air berpadu dengan dentingan keyboard yang tak henti-hentinya ia ketuk. Deadline edisi besok tinggal dua jam lagi, namun pikirannya melayang ke masa lalu—ke sosok ayahnya yang dulu juga duduk di meja serupa, dengan semangat yang sama.

 

Advetorial

“Wartawan itu bukan profesi glamor, Nak,” kata Pak Herman suatu sore, lima belas tahun silam. Ardi yang saat itu masih duduk di bangku SMA hanya mengangguk sambil memperhatikan ayahnya merapikan tumpukan kliping koran yang telah menguning. “Gaji kecil, jam kerja tak menentu, kadang diancam, kadang dihina. Tapi…”

“Tapi kenapa Ayah tetap melakukannya?” potong Ardi waktu itu.

Pak Herman tersenyum tipis, matanya menatap jauh ke luar jendela. “Karena saya juga orang seperti anda, Nak. Seperti pak tani yang butuh tahu harga pupuk yang wajar, seperti ibu-ibu yang perlu informasi kesehatan anaknya, seperti bapak-bapak yang ingin transpransi penggunaan pajak mereka.”

Kalimat itu terngiang kembali di telinga Ardi. Slogan hidup yang selalu ayahnya ucapkan setiap kali ditanya tentang pekerjaannya. “Saya juga orang seperti anda.” Sederhana, namun mengandung filosofi mendalam tentang kesetaraan dan empati dalam menjalankan profesi.

Ardi ingat betul bagaimana ayahnya menjalani hari-hari dengan gaji wartawan yang pas-pasan. Tidak ada liburan mewah, tidak ada gadget terbaru, bahkan untuk membeli sepatu sekolah baru pun keluarga mereka harus menabung berbulan-bulan. Namun Pak Herman tidak pernah mengeluh. Ia konsisten dengan pilihannya.

“Komitmen itu bukan soal uang, Nak,” kata ayahnya suatu malam ketika Ardi mengeluh ingin punya sepeda motor seperti teman-temannya. “Komitmen itu soal tanggung jawab. Ayah berkomitmen menyampaikan kebenaran kepada masyarakat, walau harus berkorban.”

 

Konsistensi. Itulah yang paling Ardi kagumi dari almarhum ayahnya. Pak Herman selalu bangun pukul lima pagi, membaca tiga koran berbeda sambil menyeruput kopi pahit. Ia akan mencatat poin-poin penting dalam buku catatan kecilnya yang sampul plastiknya sudah terkelupas. Setiap wawancara dicatat dengan rapi, setiap fakta dikonfirmasi minimal dari dua sumber berbeda.

Alm. As. Rumampuk (Salah satu wartawan senior, yang dalam karir hidupnya dikenal sebagai wartawan yang berani dan konsisten terhadap karya jusnalistiknya

“Wartawan itu seperti dokter, Nak,” ujar Pak Herman sambil menunjukkan buku catatannya yang penuh coretan. “Kalau dokter salah diagnosis, nyawa pasien terancam. Kalau wartawan salah tulis, reputasi orang hancur, bahkan bisa memicu kerusuhan. Makanya harus teliti, harus konsisten dengan prinsip.”

Prinsip. Pak Herman punya prinsip sederhana: tulis apa adanya, jangan berlebihan, dan selalu ingat bahwa di balik setiap berita ada manusia dengan perasaan. Ia mengajari Ardi bahwa wartawan bukanlah hakim yang memvonis, melainkan jembatan yang menghubungkan informasi dengan masyarakat.

Ardi teringat suatu insiden ketika ayahnya menolak uang suap dari seorang kontraktor yang tidak ingin proyek bermasalahnya diberitakan. Malam itu, Pak Herman pulang dengan wajah lelah dan kantong kosong.

“Ayah kenapa tidak ambil saja uangnya? Kita kan butuh,” bisik Ardi kepada ibunya.

“Karena ayahmu tahu, Nak,” jawab ibunya dengan suara lembut. “Kalau dia ambil uang itu, besok-besok orang akan bilang ‘wartawan itu bisa dibeli’. Padahal ayahmu juga orang seperti mereka yang butuh berita jujur.”

Kini, duduk di meja redaksi yang sama, Ardi memahami beratnya tanggung jawab yang diwariskan ayahnya. Ia sedang menyelesaikan tulisan tentang dugaan korupsi dana bantuan pendidikan. Berkas-berkas bukti tertata rapi di mejanya, hasil investigasi berbulan-bulan. Beberapa pihak sudah mencoba ‘mendekatinya’ dengan berbagai cara, namun Ardi ingat pesan ayahnya.

Telepon berdering. “Pak Ardi? Saya dari keluarga Pak Bupati. Bisa kita bicara soal berita yang akan dimuat besok?”

Ardi menarik napas dalam. “Maaf, Bu. Berita sudah melalui verifikasi yang ketat. Kalau ada klarifikasi, bisa disampaikan melalui jalur resmi.”

Setelah menutup telepon, Ardi kembali menatap layar komputernya. Jari-jarinya bergerak di atas keyboard, mengetik kalimat penutup artikelnya. Ia bisa merasakan kehadiran ayahnya, seolah Pak Herman berdiri di belakangnya, mengangguk bangga.

“Pak Herman selalu bilang, ‘saya juga orang seperti anda’,” gumam Ardi pada dirinya sendiri. Kini ia paham, kalimat itu bukan sekadar slogan. Itu adalah fondasi mentalitas seorang wartawan sejati.

Seorang wartawan yang tidak merasa lebih tinggi dari pembacanya, tidak merasa berhak menghakimi, namun juga tidak merasa lebih rendah hingga bisa dibeli atau disuap. Seorang wartawan yang memposisikan dirinya setara dengan masyarakat yang dilayaninya—sama-sama manusia dengan kebutuhan akan informasi yang benar, transparan, dan berimbang.

Hujan mulai reda. Ardi menyimpan artikelnya dan mengirim ke editor. Besok pagi, berita itu akan dibaca ribuan orang. Ada yang akan marah, ada yang akan berterima kasih. Tapi Ardi tahu, ia sudah melakukan yang terbaik dengan berpegang pada ajaran ayahnya.

Sebelum pulang, Ardi membuka laci meja dan mengeluarkan foto usang. Pak Herman tersenyum dalam balutan kemeja putih lusuh, di tangannya tergenggam pena dan buku catatan kecil. Di belakang foto, tertulis dengan tinta yang mulai pudar: “Untuk Ardi, anakku. Ingatlah selalu: Saya juga orang seperti anda. – Ayah”

Ardi tersenyum. Kini ia mengerti, warisan terbesar yang diberikan ayahnya bukanlah harta atau jabatan, melainkan pegangan hidup yang kokoh. Sebuah prinsip yang mengajarkan bahwa dalam menjalankan profesi apapun, kita harus selalu ingat kemanusiaan kita, kesetaraan kita dengan sesama, dan tanggung jawab kita terhadap kebenaran.

“Saya juga orang seperti anda, Yah,” bisik Ardi sambil memasukkan kembali foto itu ke dalam laci. “Sekarang aku mengerti.”

Di luar jendela, langit mulai cerah. Besok akan ada cerita baru untuk ditulis, kebenaran baru untuk diungkap. Dan Ardi tahu, ia akan menjalaninya dengan semangat yang sama seperti yang dulu dimiliki ayahnya—dengan komitmen, konsistensi, dan hati yang selalu ingat: “Saya juga orang seperti anda.” [***]

 

Sebuah catatan kecil, yang menggambarkan komitmen dan penghormatan terhadap profesi, ditengah kepungan orientasi dan prospek bisnis. 

Example 120x600
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *