BUTOTA, CERITA PENDEK – Malam telah lama jatuh ketika gedung wakil rakyat itu mulai sepi.
Lampu-lampu di lorong sebagian telah dipadamkan. Para staf sudah meninggalkan ruangan. Hanya beberapa kendaraan yang masih bertahan di halaman, seolah menunggu seseorang yang belum ingin pulang.
Di gedung itulah sebuah kisah terlarang tumbuh diam-diam. Empat anggota DPRD dari sebuah daerah yang dikenal memiliki PAD relatif rendah dibanding daerah lain di provinsinya, ternyata menyimpan hubungan yang jauh lebih rumit daripada sekadar urusan politik.
Tiga Aleg berasal dari satu partai besar. Dua di antaranya lelaki yang relatif masih muda. Sementara satu perempuan dan seorang perempuan lainnya berasal dari partai berbeda.
Keduanya perempuan itu bahkan bukan sekadar kolega, mereka adalah bestie, sangat dekat dan terlalu dekat untuk sekadar disebut sahabat sesama anggota dewan.
Mereka hampir selalu terlihat bersama, dari acara resmi, makan malam, hingga perjalanan keluar daerah. Dalam beberapa kesempatan, keduanya bahkan disebut tidak pergi sendirian.
Ada dua lelaki muda yang selalu berada dalam lingkaran perjalanan mereka dan tentunya hubungan itu perlahan menjadi sebuah rahasia bersama.
Di hadapan publik, keduanya tampil sebagai sahabat karib yang saling mendukung. Di balik layar, mereka justru menjadi orang yang paling mengetahui kehidupan pribadi masing-masing.
Mereka saling menyimpan cerita, saling mengetahui siapa bertemu siapa, saling tahu perjalanan mana yang sebenarnya bukan sekadar perjalanan dinas.
Dan yang paling penting, mereka sama-sama memegang rahasia yang jika dibuka, bisa membuat banyak orang kehilangan muka.
Karena itu, kedekatan mereka seperti perjanjian tak tertulis. Seperti, Aku menjaga rahasiamu, kau menjaga rahasiaku.
Dua perempuan itu, sebenarnya memiliki kehidupan yang mapan. Rekam jejak mereka di dunia politik pun relatif baik. Mereka memiliki harta dan posisi yang membuat banyak orang bertanya-tanya mengapa masih mencari sesuatu di luar rumah.
Jawabannya mungkin bukan soal harta, bukan pula soal jabatan.
Melainkan perhatian…!!!
Keduanya memiliki pasangan yang telah dimakan usia. Kondisi kesehatan pasangan mereka juga disebut tidak lagi seperti dahulu.
Di tengah rumah tangga yang berjalan dalam rutinitas, hadir dua lelaki muda. Brondong….!!!
Mereka berasal dari partai yang sama, lebih muda, lebih energik, dan mampu menghadirkan kembali sesuatu yang mungkin telah lama hilang dari kehidupan dua perempuan tersebut, yakni perhatian dan rasa dibutuhkan.
Awalnya hanya candaan, kemudian pesan pribadi, lalu pertemuan dan Kemudian perjalanan.
Dan akhirnya, menjadi hubungan yang tidak lagi bisa disebut sekadar persahabatan.
Yang membuat semuanya semakin rumit, kedua perempuan itu seakan menemukan kenyamanan karena menjalani kisah tersebut bersama-sama.
Ketika salah seorang pergi keluar daerah, yang lain tahu.
Ketika salah seorang bertemu dengan pasangan mudanya, yang lain mengerti.
Ketika ada pesan yang harus disembunyikan, mereka tahu bagaimana caranya.
Mereka bahkan disebut beberapa kali melakukan perjalanan bersama dengan dua lelaki muda tersebut.
Bagi orang luar, mungkin hanya terlihat seperti rombongan teman yang sedang menikmati waktu luang.
Tetapi bagi mereka berempat, setiap perjalanan menyimpan cerita sendiri.
Hotel, restoran, mobil perjalanan dan percakapan panjang yang tidak pernah masuk agenda resmi.
Semakin sering mereka bepergian, semakin kuat pula ikatan di antara mereka.
Bukan hanya ikatan perasaan, tetapi juga ikatan rahasia.
Kedua perempuan itu sadar betul bahwa mereka saling memiliki kartu masing-masing.
Jika salah satu membuka mulut, yang lain ikut terseret.
Jika satu rahasia terbongkar, rahasia lainnya mungkin akan ikut terbuka.
Maka, mereka memilih diam.
Mereka saling melindungi bukan semata karena persahabatan, tetapi karena nasib mereka sudah terikat oleh cerita yang sama.
Sementara dua lelaki muda itu menikmati posisi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Di satu sisi, mereka adalah anggota dewan muda yang memiliki masa depan politik.
Di sisi lain, mereka telah masuk terlalu jauh ke dalam hubungan yang bisa menghancurkan masa depan tersebut.
Gedung wakil rakyat tetap berjalan seperti biasa, rapat paripurna tetap digelar, pembahasan anggaran tetap berlangsung.
Mereka masih berdiri di depan mikrofon dan berbicara tentang kepentingan masyarakat.
Tidak ada yang berubah di hadapan kamera, tetapi di balik itu, empat orang wakil rakyat yang terhormat ini, memainkan kehidupan yang berbeda.
Sampai suatu ketika, sebuah perjalanan keluar daerah mulai menyisakan jejak.
Sebuah foto.
Sebuah percakapan.
Dan seorang staf yang mulai menyadari bahwa kedekatan keempatnya bukan lagi sesuatu yang biasa.
Rumor pun mulai berembus.
Dari lorong kantor menuju meja-meja warung kopi.
Dari percakapan tertutup menuju telinga orang-orang yang selama ini hanya bisa menduga.
Namun dua perempuan itu tetap tenang, mereka tahu satu sama lain, mereka tahu terlalu banyak dan justru karena itulah mereka merasa aman.
Setidaknya untuk sementara.
Sebab dalam dunia politik, rahasia bukan sekadar sesuatu yang disembunyikan.
Rahasia bisa menjadi alat tawar.
Bisa menjadi perisai, tetapi sekaligus bisa menjadi bom waktu.
Empat orang itu mungkin masih bisa menyangkal, mungkin bisa tertawa ketika rumor dibicarakan.
Mungkin bisa kembali duduk di kursi masing-masing seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Namun mereka lupa satu hal.
Perjalanan bisa disembunyikan, pertemuan bisa dibantah, tetapi jejak selalu meninggalkan cerita.
Dan di sebuah daerah yang rakyatnya masih menunggu pembangunan karena PAD-nya belum mampu bersaing dengan daerah lain di provinsi itu, empat wakil rakyat justru tengah sibuk mengurus urusan yang sama sekali bukan kepentingan rakyat.
Empat kursi, dua perempuan yang menjadi bestie, dua lelaki muda, dua partai dan serangkaian perjalanan keluar daerah.
Dan rahasia yang mereka jaga bersama.
Persahabatan mereka mungkin terlihat sangat kuat, tetapi justru karena mereka saling memegang rahasia, tak seorang pun tahu. Siapa yang akan lebih dulu berkhianat ketika pintu rahasia itu akhirnya terbuka. [**]















