Scroll untuk baca artikel
banner 350x300
Example floating
Example floating
Provinsi GorontaloTajuk & Opini

Alasan Digitalisasi Parlemen, Padahal Sistem Macbook Air “Tak Ramah” Pemerintahan

5
×

Alasan Digitalisasi Parlemen, Padahal Sistem Macbook Air “Tak Ramah” Pemerintahan

Sebarkan artikel ini
Foto : Ilustrasi created by AI
Example 468x60

BUTOTA – TAJUK, Polemik rencana pengadaan 45 unit MacBook Air bagi anggota DPRD Provinsi Gorontalo tahun anggaran 2026 sejatinya bukan sekadar perdebatan tentang merek laptop atau selera teknologi. Di balik angka Rp1,125 miliar yang kini menjadi sorotan publik, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih mendasar. Sejauh mana orientasi belanja daerah benar-benar dibangun berdasarkan kebutuhan objektif pemerintahan, bukan sekadar simbol modernisasi birokrasi.

Klarifikasi anggota Badan Anggaran DPRD Provinsi Gorontalo, Espin Tulie, memang menghadirkan sudut pandang yang layak dipahami. Dalam era digitalisasi pemerintahan, kebutuhan terhadap perangkat kerja yang cepat, efisien, dan mendukung pola kerja paperless memang tidak dapat dihindari. Aktivitas legislasi saat ini tidak lagi sederhana. Pembahasan APBD, rancangan peraturan daerah, dokumen pengawasan, hingga komunikasi lintas lembaga semakin bergantung pada sistem digital dengan tuntutan mobilitas tinggi.

Advetorial

Argumentasi mengenai efisiensi daya, daya tahan baterai, kestabilan sistem, serta usia pemakaian perangkat Apple juga bukan klaim yang sepenuhnya keliru. Dalam banyak sektor profesional, MacBook Air memang dikenal memiliki performa stabil dan usia pakai relatif panjang. Dalam perspektif tertentu, pembelian perangkat dengan kualitas tinggi dapat dianggap sebagai investasi jangka panjang, terutama jika perangkat tersebut digunakan secara intensif dan tetap tercatat sebagai aset daerah melalui mekanisme pinjam pakai.

Namun persoalannya, kita tidak sedang memperdebatkan apakah MacBook Air adalah laptop bagus atau tidak?. Yang dipersoalkan adalah, apakah perangkat tersebut paling relevan dan paling kompatibel dengan kebutuhan kerja dan kinerja Aleg Deprov?

Inilah, titik polemik menjadi semakin penting untuk dibedah secara objektif. Sebab modernisasi birokrasi tidak boleh berhenti pada perubahan perangkat keras, tetapi harus dimulai dari kesesuaian sistem kerja. Sebab dalam praktik administrasi pemerintahan daerah di Indonesia, mayoritas aplikasi birokrasi masih dibangun dan dioptimalkan dalam ekosistem Windows. Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD), aplikasi penganggaran, tata naskah dinas elektronik, aplikasi persidangan, hingga integrasi tanda tangan elektronik pemerintah selama ini lebih banyak berjalan stabil pada perangkat dengan sistem operasi umum pemerintahan.

Secara teknis, macOS memang memiliki sistem keamanan yang jauh lebih tertutup. Apple menerapkan mekanisme Gatekeeper dan notarization untuk memastikan, setiap aplikasi pihak ketiga melewati verifikasi tertentu sebelum dapat dijalankan secara normal. Dari perspektif keamanan digital, hal tersebut merupakan keunggulan. Tetapi, dalam praktik birokrasi daerah yang masih menggunakan berbagai aplikasi internal, middleware lokal, maupun sistem pengembangan terbatas, kondisi itu justru dapat menimbulkan tantangan kompatibilitas.

Artinya, yang dipertaruhkan bukan hanya kemampuan membuka dokumen atau menjalankan aplikasi perkantoran biasa. Yang menjadi pertanyaan ialah apakah seluruh ekosistem kerja DPRD nantinya benar-benar dapat berjalan optimal tanpa hambatan teknis tambahan?.

Disatu sisi, kita pahami bahwa perangkat premium tersebut, tetap membutuhkan penyesuaian tambahan, penggunaan aplikasi alternatif, virtualisasi Windows, hingga pendampingan teknis khusus, maka argumentasi efisiensi justru berpotensi kehilangan relevansinya.

Lebih jauh lagi, polemik ini membuka satu persoalan klasik dalam tata kelola anggaran daerah. Dimana, minimnya transparansi kajian teknis sebelum pengadaan dilakukan, tentu harus dipertanyakan utamanya kepada seluruh anggota banggar.

Grafik usia rata-rata Anggota DPRD Provinsi Gorontalo [Foto : Grafik Ultra news, created by AI]
Walaupun saat ini, kita belum melihat secara terbuka apakah telah dilakukan uji kompatibilitas terhadap seluruh aplikasi pemerintahan yang digunakan oleh DPRD Provinsi Gorontalo. Belum terlihat pula kajian akademik maupun analisis kebutuhan yang membandingkan secara objektif antara perangkat berbasis macOS dan Windows berdasarkan efektivitas kerja birokrasi, biaya pemeliharaan, dukungan teknis, hingga kemampuan integrasi sistem pemerintahan nasional.

Padahal, dalam prinsip pengadaan barang dan jasa pemerintah, urgensi bukan hanya diukur dari keinginan meningkatkan citra modern, tetapi dari rasionalitas kebutuhan, efisiensi anggaran, serta manfaat langsung terhadap pelayanan publik.

Walaupun Gorontalo, telah dinilai sebagai daerah yang pertumbuhan ekonomi tertinggi keempat secara nasional khususnya pada Triwulan I 2026,  namun persoalan daerah yang masih menuntut perhatian seperti kemiskinan, infrastruktur, layanan pendidikan, hingga kesehatan, maka sensitivitas penggunaan anggaran menjadi sangat penting.

Kita pahami, bahwa masyarakat tentu tidak anti terhadap digitalisasi ataupun bahasa parlemen modern yang digunakan dan juga tidak menolak peningkatan kualitas kerja DPRD. Tetapi masyarakat berhak mempertanyakan prioritas, terutama ketika nilai pengadaan mencapai lebih dari satu miliar rupiah untuk fasilitas kerja yang mewah bagi legislatif.

Karena itu, perdebatan ini seharusnya tidak diarahkan menjadi sekadar konflik antara kelompok “pro-teknologi” melawan “anti-pengadaan”. Yang dibutuhkan justru keterbukaan penuh mengenai dasar teknis, kebutuhan riil, serta proyeksi manfaat konkret dari pengadaan tersebut.

Jika memang MacBook Air dianggap sebagai pilihan paling tepat, maka DPRD wajib mampu membuktikannya melalui kajian yang transparan, terukur, dan dapat diuji publik. Sebaliknya, apabila masih terdapat persoalan kompatibilitas maupun ketidaksesuaian dengan sistem kerja pemerintahan daerah, maka evaluasi ulang menjadi langkah yang jauh lebih bijak daripada memaksakan simbol modernitas yang belum tentu efektif.

Sementara, ukuran parlemen modern bukan terletak pada mahalnya perangkat yang digunakan, melainkan pada sejauh mana teknologi mampu mempercepat pelayanan, memperkuat fungsi pengawasan, meningkatkan kualitas legislasi, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang diwakilinya.

Dan jika dikaitkan dengan data diri calon peminjam aset daerah berupa perangkat premium Macbook air generasi terbaru 2026,  sesuai data KPUD Provinsi Gorontalo, rata-rata usia penghuni parlemen botu berumur 53 – 54 Tahun. Usia termuda 28 – 40 Tahun, usia tertua 72 Tahun dan usia diatas 50 Tahun sebesar 76,6%.

Sehingga dan seharusnya, digitalisasi parlemen membutuhkan kesiapan sumber daya manusia, bukan sekadar pengadaan perangkat mahal. Dan ketika mayoritas anggota legislatif berada pada rentang usia senior dengan adaptasi teknologi yang terbatas, efektivitas penggunaan perangkat premium seperti MacBook Air M5, pasti akan jadi sorotan. [REDAKSI]

Example 120x600
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *