BUTOTA, GORONTALO KOTA – Pemerintah Kelurahan Moodu, Kecamatan Kota Timur, terus mendorong percepatan sejumlah program pemerintah kota yang dilaksanakan di tingkat kelurahan. Memasuki tahap kedua Dana Kelurahan 2026, progres pekerjaan fisik di sejumlah wilayah disebut telah mencapai sekitar 85 persen.
Lurah Moodu Ocen Hudodo, mengatakan pekerjaan tahap kedua tersebut mencakup empat RW, dengan kegiatan berupa rehabilitasi saluran maupun pembersihan saluran. Saat ini, pekerjaan masih berlangsung di wilayah RW 2.
“Di tahap dua ini sudah hampir 85 persen pekerjaan di empat RW dan sekarang pekerjaan ada di RW 2. Pekerjaannya baik itu rehab saluran maupun pembersihan saluran,” kata Ocen.
Menurutnya, penyelesaian pekerjaan di lapangan terus dikoordinasikan agar berbagai kendala yang muncul dapat segera ditangani. Ia menyebut arahan dari Pemerintah Kota Gorontalo menjadi salah satu dasar dalam mempercepat penyelesaian program tersebut.
Selain Dana Kelurahan, Pemerintah Kelurahan Moodu juga terus mengejar target penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Untuk tahun 2026, penetapan PBB Kelurahan Moodu tercatat sekitar Rp226 juta.
Hingga saat ini, realisasi PBB telah mencapai 63 persen. Ocen memastikan pihaknya tetap berkomitmen meningkatkan capaian tersebut hingga batas akhir penetapan pada Oktober mendatang.
“Kami tetap punya komitmen di akhir penetapan PBB di bulan Oktober, insyaallah bisa mencapai 100 persen,” ujarnya.
Target tersebut sejalan dengan penekanan Pemerintah Kota Gorontalo kepada seluruh kelurahan agar realisasi PBB dapat mencapai minimal 90 persen hingga akhir Oktober, bahkan diupayakan mencapai 100 persen.
Di bidang keagamaan, Kelurahan Moodu juga memiliki potensi yang cukup kuat. Ocen menyebut wilayahnya dikenal sebagai salah satu kawasan yang banyak memiliki santri dan lembaga pendidikan keagamaan.
Hal tersebut terlihat dari keterlibatan anak-anak Moodu dalam berbagai kegiatan keagamaan dan perlombaan. Dalam Festival Putra Putri Islam Berprestasi (PPIB) tingkat kota, Kelurahan Moodu berhasil mengirimkan perwakilan dan meraih juara pertama kategori putri.
Menurut Ocen, capaian tersebut tidak terlepas dari pembinaan yang dilakukan sejak usia dini.
“Memang dari sisi religi masyarakatnya di sini lumbungnya para santri. Ada beberapa TPK yang mendidik, bukan cuma sudah tingkat dewasa, tetapi mulai dari anak-anak sudah dididik,” jelasnya.
Ia mengatakan pendidikan keagamaan di Moodu tidak hanya dimulai ketika anak memasuki jenjang sekolah menengah, tetapi telah dilakukan sejak usia dini. Karena itu, setiap ada kegiatan keagamaan, Kelurahan Moodu berupaya mengirimkan perwakilan untuk ikut berkompetisi.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan menjadikan Moodu sebagai kelurahan santri, Ocen mengatakan saat ini pihaknya masih fokus pada agenda lain yang juga menjadi prioritas, yakni mewakili Provinsi Gorontalo dalam penilaian kelurahan tingkat nasional.
Moodu sebelumnya, meraih juara pertama pada tingkat Kota Gorontalo dan kemudian menjadi juara ketujuh pada tingkat Provinsi Gorontalo. Atas capaian tersebut, Moodu dipercaya mewakili Provinsi Gorontalo untuk penilaian tingkat nasional.
“Bulan Oktober ini kami akan pemaparan untuk lomba kelurahan tingkat nasional. Kami optimis, semoga bisa masuk 10 besar atau paling tidak lima besar,” katanya.
Persoalan sampah juga menjadi perhatian Pemerintah Kelurahan Moodu. Ocen mengatakan produksi sampah rumah tangga merupakan persoalan yang harus ditangani bersama, sehingga diperlukan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaannya.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengembangkan kawasan percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Program tersebut mendapat pembinaan dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) serta dukungan CSR Bank Indonesia berupa fasilitas pendukung.
Saat ini, program tersebut baru diterapkan di satu RW dan diarahkan menjadi kawasan bebas sampah yang nantinya dapat menjadi contoh bagi wilayah lainnya.
Pengelolaan dilakukan dengan memilah sampah rumah tangga, termasuk sisa makanan dan sampah organik. Sampah organik kemudian diolah menjadi pupuk yang telah dimanfaatkan masyarakat untuk tanaman.
Namun, Ocen mengatakan hasil pengolahan tersebut masih dalam tahap pengujian laboratorium untuk memastikan komposisi dan kualitasnya.
“Untuk penanganan sampah, alhamdulillah dengan adanya juga pengadaan oleh wali kota, getor untuk sampah di Kelurahan Moodu itu sudah bisa mengatasi sampah-sampah rumah tangga,” ujarnya.
Sementara sampah yang telah dipilah, terutama sampah plastik dan sampah organik, juga diarahkan untuk ditangani melalui tempat pemrosesan yang tersedia.
Ocen mengimbau masyarakat Kelurahan Moodu untuk terus menjaga kebersihan lingkungan dan tidak hanya mengandalkan pemerintah dalam menangani persoalan sampah.
Ia juga menyoroti dampak kemarau panjang yang hingga kini masih dirasakan masyarakat. Kondisi tersebut turut memengaruhi sektor pertanian, khususnya sejumlah area persawahan di wilayah Moodu.
Menurutnya, beberapa petani bahkan mengalami kendala untuk melakukan penanaman padi karena keterbatasan pasokan air. Kondisi tersebut berkaitan dengan ketergantungan terhadap pasokan air dari bendungan.
Meski demikian, Ocen mengatakan ketersediaan pangan dan kebutuhan masyarakat di wilayahnya hingga kini masih dapat terpenuhi.
“Kami tetap mengimbau kepada masyarakat Kelurahan Moodu khususnya, tetap menjaga lingkungan dan menjaga kebersihan,” pungkasnya. [IS/MH]



















