Scroll untuk baca artikel
banner 350x300
Example floating
Example floating
BeritaTajuk & Opini

Jumat Berkah dan Pilihan Adhan Dambea, Saat Spiritualitas Menjadi Pertimbangan Menjaga Gorontalo

×

Jumat Berkah dan Pilihan Adhan Dambea, Saat Spiritualitas Menjadi Pertimbangan Menjaga Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

” Jumat mengajarkan kita bahwa tidak setiap perjuangan harus diwujudkan melalui pengerahan massa. Ada saatnya aspirasi disampaikan melalui dialog, ada waktunya memberi ruang bagi ketenangan, dan selalu ada kewajiban menjaga persaudaraan,” 

 

Advetorial

Oleh: Jeffry As. Rumampuk – Juru Bicara Walikota Gorontalo

BUTOTA, OPINI – Hari Jumat, memiliki tempat istimewa dalam kehidupan umat Islam. Bukan sekadar hari untuk menunaikan shalat berjemaah, Jumat juga menjadi momentum memperkuat iman, merawat persaudaraan, dan menimbang setiap tindakan dengan hati yang jernih.

Dalam Islam, Jumat dikenal sebagai Sayyidul Ayyam, penghulu segala hari. Keistimewaannya ditegaskan dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 9, yang memerintahkan umat Islam bersegera mengingat Allah ketika seruan salat Jumat dikumandangkan. Pesan ini mengingatkan bahwa di tengah kesibukan duniawi, ada kewajiban spiritual dan nilai kemaslahatan yang harus tetap dijaga.

Semangat tersebut menemukan relevansinya dalam kehidupan Kota Gorontalo, di bawah kepemimpinan Wali Kota Adhan Dambea bersama Wakil Wali Kota Indra Gobel. Berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari mengaji bagi ASN setiap Jumat hingga tadarus Al-Qur’an selama Ramadan, menjadi bagian dari upaya menghidupkan nilai religius dalam kehidupan pemerintahan dan masyarakat.

Bagi Kota Gorontalo yang bertumpu pada sektor jasa, perdagangan, dan aktivitas ekonomi masyarakat, pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan anggaran dan infrastruktur. Integritas, ketertiban, serta kesadaran moral juga dibutuhkan agar roda ekonomi bergerak baik dan pelayanan publik berjalan optimal. PAD yang menjadi salah satu penopang pembangunan daerah harus dikelola dengan baik, sementara suasana kota yang aman dan harmonis serta religius menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat.

Membatalkan Aksi, Menghormati Kesucian Jumat

Rencana aksi demonstrasi jilid III AMKGB di Mapolda Gorontalo pada Jumat, 23 Oktober 2026, menjadi perhatian tersendiri ketika pertimbangan keagamaan dan stabilitas daerah turut mengemuka.

Keputusan AMKGB untuk membatalkan aksi tersebut, sebagaimana informasi yang disampaikan, dapat dibaca sebagai pilihan untuk mengutamakan penghormatan terhadap hari Jumat yang dimuliakan umat Islam. Sikap ini juga sejalan dengan semangat kegiatan keagamaan yang terus digaungkan di Kota Gorontalo, yakni membangun kehidupan masyarakat yang tidak hanya religius dalam kegiatan seremonial, tetapi juga mampu menerapkan nilai agama dalam mengambil keputusan.

Jika selama ini masyarakat diajak memakmurkan masjid, membaca Al-Qur’an, dan memperkuat persaudaraan, maka menghormati hari Jumat melalui pilihan untuk tidak menggelar aksi pada hari tersebut, dapat menjadi wujud lain dari pengamalan nilai spiritual.

Tentu, pembatalan aksi bukan berarti aspirasi masyarakat kehilangan arti. Dalam negara demokrasi, penyampaian pendapat tetap merupakan hak yang dilindungi hukum. Namun, memilih waktu dan cara yang mempertimbangkan suasana keagamaan serta kepentingan masyarakat juga merupakan bentuk kedewasaan dalam berdemokrasi.

Di sinilah ketegasan Adhan Dambea secara pribadi, patut dilihat secara proporsional. Ketegasan seorang pemimpin tidak harus diwujudkan melalui sikap keras, melainkan melalui ajakan yang mengedepankan ketertiban, kebijaksanaan, dan kepentingan bersama.

Menjaga Gorontalo Tetap Aman dan Berkah

Adhan Dambea dan Indra Gobel menghadapi tanggung jawab besar untuk memastikan Kota Gorontalo, terus berkembang sebagai pusat jasa, pemerintahan, dan aktivitas keagamaan di Provinsi Gorontalo. Stabilitas daerah menjadi penting agar masyarakat dapat beraktivitas dengan nyaman, pelaku usaha tetap menjalankan kegiatan ekonomi, dan pembangunan tidak terganggu oleh ketegangan yang berkepanjangan.

Namun, stabilitas yang baik harus tetap disertai keterbukaan. Pemerintah perlu mendengar aspirasi, sedangkan masyarakat diharapkan menyampaikannya secara tertib dan bertanggung jawab.

Pembatalan aksi AMKGB jilid III di Mapolda Gorontalo pada momentum Jumat ini, dapat menjadi contoh bahwa pertimbangan keagamaan dan kepentingan umum bisa berjalan beriringan. Perbedaan tidak harus berakhir dengan pertentangan, sementara penghormatan terhadap hari suci dapat menjadi ruang untuk menenangkan suasana dan membuka jalan bagi dialog.

Harapannya, semangat religius yang dibangun di Kota Gorontalo semakin nyata dalam perilaku pemerintahan dan kehidupan masyarakat. Sebab, kota yang berkah bukanlah kota tanpa persoalan, melainkan kota yang mampu menyelesaikan persoalan dengan adab, keadilan, dan kebijaksanaan.

Bagi Adhan Dambea dan Indra Gobel, inilah kesempatan memperkuat cita-cita menjadikan Kota Gorontalo sebagai kota yang aman, berkah, dan melayani. Bagi masyarakat, ini menjadi pengingat bahwa nilai agama akan semakin bermakna ketika hadir dalam keputusan yang mengutamakan kebaikan bersama. [**]

Example 120x600
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *