Scroll untuk baca artikel
banner 350x300
Example floating
Example floating
Provinsi Gorontalo

Geger Jilid II DPRD Gorontalo! BEM UNG Ancam Tsunami Massa Usai Aksi Merah Maron Kena Represif Polisi

×

Geger Jilid II DPRD Gorontalo! BEM UNG Ancam Tsunami Massa Usai Aksi Merah Maron Kena Represif Polisi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BUTOTA, GORONTALO – Aksi unjuk rasa Jilid II Aliansi Merah Maron Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di kantor DPRD Provinsi Gorontalo pada Kamis (22/10/2026) berujung ricuh. Presiden Mahasiswa UNG, Azka Mahardika Al-Ghazali, ngamuk dan menyentil keras empat pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang memilih “mangkir” dan enggan menemui ribuan massa.

Empat pejabat utama yang disorot yakni Gubernur, Kapolda, Ketua DPRD, dan Kajati Gorontalo. Menurut Azka, sikap main sembunyi para pimpinan daerah ini bukan cuma masalah teknis, tapi bukti nyata kesombongan kekuasaan (arrogance of power) dan hilangnya etika kepemimpinan.

Advetorial

“Saat ribuan mahasiswa dan rakyat menuntut pertanggungjawaban, mereka malah menghindar. Ini memberi sinyal berbahaya seolah aspirasi warga cuma dianggap gangguan ketertiban yang harus dibungkam,” tegas Azka.

Kericuhan di lapangan dinilai sebagai dampak langsung dari kekosongan kepemimpinan di level atas. Ketika ruang dialog disumbat secara sengaja oleh ketidakhadiran para pemegang kebijakan, frustrasi massa menjadi hal yang tidak terhindarkan.

Bukannya hadir membawa solusi, ruang demonstrasi malah diwarnai tindakan represif dari aparat kepolisian. Petugas di lapangan yang mestinya mengayomi justru terlihat main dorong, mengintimidasi, hingga memakai cara-cara kekerasan untuk membentengi elite penguasa. Tindakan brutal ini mencoreng nilai kemanusiaan dan memperlihatkan instrumen negara yang bergeser fungsi menjadi alat pembungkam suara kritis.

Padahal, sejak awal Aliansi Merah Maron datang ke jalan dengan niat baik dan poin tuntutan yang terukur mengenai masalah krusial di Gorontalo. Massa aksi sama sekali tidak merencanakan tindakan anarkis; mereka hanya minta keempat pimpinan Forkopimda hadir duduk bersama memberikan jawaban konkret.

Namun, iktikad baik tersebut justru dibalas dengan intimidasi dan kekerasan. Atas perlakuan ini, Azka menegaskan bahwa perlawanan tidak akan berhenti di Jilid II.
Saat ini Aliansi Merah Maron tengah menggelar konsolidasi total bersama elemen masyarakat untuk menyiapkan aksi susulan Jilid III dengan gelombang massa yang jauh lebih besar dan masif. [Adv]

Example 120x600
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *