BUTOTA, GORONTALO – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Gorontalo terus memperkuat pelayanan pengangkutan dan pengelolaan sampah di wilayah Kota Gorontalo.
Kepala DLH Kota Gorontalo, Lukman Kasim, mengatakan pihaknya tetap melakukan penanganan terhadap sejumlah titik yang mengalami penumpukan sampah, termasuk ketika terjadi gangguan armada pengangkutan.
Menurut Lukman, penumpukan pada sejumlah titik dapat terjadi ketika terdapat armada yang mengalami kerusakan. Namun, kondisi tersebut langsung diantisipasi melalui penyesuaian jadwal pengangkutan.
“Memang masih ada beberapa titik yang mengalami penumpukan sampah. Kondisi ini terjadi apabila ada armada yang rusak sehingga tidak beroperasi. Akan tetapi, tumpukan sampah itu tidak berlangsung lama karena DLH langsung mengantisipasi melalui pengaturan jadwal pengangkutan,” ujar Lukman.
Lukman menjelaskan, berdasarkan data DLHK, rata-rata volume sampah yang dihasilkan di Kota Gorontalo mencapai sekitar 140 ton per hari.
Dari jumlah tersebut, sekitar 132 ton berhasil diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Sementara sekitar delapan ton lainnya diarahkan untuk pengelolaan melalui TPS3R dan Bank Sampah.
“Rata-rata volume untuk Kota Gorontalo sebesar 140 ton per hari. Sementara yang berhasil diangkut ke TPA kurang lebih 132 ton. Untuk sisa delapan ton merupakan sampah yang terdistribusi ke TPS3R dan Bank Sampah,” jelasnya.
Menurut Lukman, pengelolaan sampah melalui TPS3R dan Bank Sampah merupakan bagian dari upaya DLH mengurangi sampah yang harus dibawa ke TPA.
Dari sisi armada, DLH Kota Gorontalo memiliki total 54 unit getor, yang terdiri atas 50 unit ditempatkan di kelurahan dan empat unit berada di DLH.
Saat ini, sekitar 48 unit masih aktif beroperasi, sedangkan tujuh unit lainnya mengalami kerusakan.
Kondisi armada menjadi salah satu hal yang terus menjadi perhatian DLHK dalam menjaga kesinambungan pelayanan pengangkutan sampah.
Lukman mengatakan, ketika terjadi kerusakan armada, pihaknya melakukan pengaturan kembali jadwal pengangkutan sehingga pelayanan di wilayah yang terdampak tetap dapat ditangani.
DLH juga mencatat terdapat enam pengaduan masyarakat terkait sampah yang tidak terangkut selama periode 1 hingga 18 September 2026.
Lukman memastikan seluruh pengaduan tersebut telah direspons dan ditindaklanjuti.
“Pengaduan masyarakat selama bulan September tentang sampah yang tidak terangkut sebanyak enam pengaduan. Itu pun pengaduan tersebut langsung diantisipasi,” katanya.
Ia menambahkan, pengaduan masyarakat menjadi salah satu bahan evaluasi DLH untuk memperbaiki pola pelayanan di lapangan.
Untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah, DLH Kota Gorontalo juga bekerja sama dengan mahasiswa KKN Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Kerja sama tersebut antara lain dilakukan melalui pemetaan volume sampah di sejumlah wilayah.
Lukman mengatakan, hasil pemetaan tersebut dapat menjadi bahan untuk memperkuat koordinasi antara DLH dengan pemerintah kelurahan dan kecamatan.
“Adanya pemetaan volume sampah yang dilakukan oleh para mahasiswa menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi dengan pihak kelurahan dan kecamatan,” ujarnya.
Selain itu, DLH terus mendorong pemilahan sampah dari sumber serta melakukan pembinaan terhadap masyarakat dalam pemanfaatan komposter.
Lukman mengungkapkan, Kota Gorontalo saat ini memiliki 10 TPS3R. Namun, belum seluruhnya dapat beroperasi secara optimal karena keterbatasan sarana dan prasarana pendukung.
” Dari 10 TPS3R tersebut, sebanyak enam TPS3R saat ini telah beroperasi,” kata Lukman.
DLH kata Lukman, terus melakukan koordinasi dengan pemerintah kelurahan untuk mendorong pengelola TPS3R meningkatkan aktivitas pengolahan sampah.
“Langkah awal yang dilakukan DLH adalah menetapkan pengelola TPS3R. Kemudian membangun koordinasi dengan pihak kelurahan agar terus mendorong para pengelola TPS3R dalam melakukan aktivitas pengolahan sampah,” jelasnya.
Menurutnya, keterbatasan fasilitas menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pengolahan sampah di TPS3R belum berjalan maksimal.
Memasuki akhir 2026, DLH Kota Gorontalo menargetkan penguatan pengelolaan sampah dari sumber sekaligus pembenahan sistem pengangkutan.
Dua target yang tengah didorong adalah peningkatan pemilahan sampah dari sumber serta penyelesaian sistem informasi pengangkutan sampah melalui kerja sama dengan peneliti dari UNG.
“Sistem informasi tersebut diharapkan dapat membantu DLH dalam memperkuat koordinasi dan pengawasan pelayanan pengangkutan sampah di wilayah Kota Gorontalo,” ungkap Lukman.
Lukman menegaskan, penanganan sampah membutuhkan keterlibatan bersama, tidak hanya pemerintah tetapi juga masyarakat, pemerintah kelurahan dan kecamatan, serta pengelola TPS3R dan Bank Sampah.
“Target DLH adalah terjadi pemilahan di sumber dan penyelesaian sistem informasi pengangkutan sampah melalui kerja sama dengan pihak peneliti dari UNG,” pungkas Lukman Kasim. (Adv)



















