“Manusia terbaik bukanlah mereka yang hidup paling lama, melainkan mereka yang meninggalkan manfaat paling besar bagi sesamanya.”
BUTOTA – TAJUK, Kepergian almarhum Rachmat Gobel bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga besar dan dunia politik nasional, tetapi juga menghadirkan kehilangan mendalam bagi masyarakat Gorontalo. Sosok yang lahir di Gorontalo pada 3 September 1962 itu dikenal sebagai pengusaha nasional, negarawan, sekaligus putra daerah yang memilih mengabdikan sebagian besar pemikiran, tenaga, dan pengaruhnya untuk membangun tanah kelahirannya.
Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari jabatan yang pernah diemban, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Dari ruang direksi perusahaan, kursi Menteri Perdagangan Republik Indonesia, hingga parlemen sebagai Wakil Ketua DPR RI dan kemudian Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Gorontalo, Rachmat Gobel konsisten membawa satu gagasan besar, takni menjadikan Gorontalo sebagai daerah yang mandiri, maju, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Di mata Rachmat Gobel, kemiskinan tidak akan pernah dapat dihapus hanya dengan bantuan sosial. Ia meyakini bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang akan melahirkan sumber daya manusia berkualitas.
Atas dasar itu, ia memperjuangkan berbagai program pendidikan, mulai dari pemberian beasiswa, pengiriman pelajar Gorontalo ke luar negeri seperti Jepang dan Turki, penguatan pendidikan vokasi melalui Politeknik Gorontalo, hingga pembangunan PAUD berstandar internasional yang dapat diakses masyarakat kurang mampu secara gratis. Baginya, anak-anak Gorontalo harus memperoleh kesempatan yang sama untuk bersaing dengan generasi dari daerah lain.
Salah satu pandangan yang paling dikenal dari Rachmat Gobel adalah, keyakinannya bahwa bantuan sosial hanya bersifat sementara. Menurutnya, solusi paling efektif mengurangi kemiskinan adalah menciptakan lapangan kerja, membuka peluang usaha, dan membangun industri yang mampu menyerap tenaga kerja lokal.
Ia berulang kali menyampaikan bahwa masyarakat tidak boleh terus bergantung pada bantuan pemerintah. Yang harus dibangun adalah kemampuan masyarakat untuk berdiri di atas kaki sendiri melalui pendidikan, investasi, industri, dan kewirausahaan.
Tidak banyak tokoh daerah yang berani menyusun visi pembangunan hingga tiga dekade ke depan. Rachmat Gobel melakukannya melalui konsep Visi Gorontalo 2051, sebuah gagasan yang menempatkan Gorontalo sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.
Konsep tersebut bertumpu pada pembangunan pelabuhan internasional, kawasan ekonomi berbasis pangan, hilirisasi hasil pertanian dan perikanan, serta integrasi UMKM dengan pasar nasional dan ekspor. Menurutnya, apabila seluruh mata rantai produksi dari hulu hingga hilir dibangun di Gorontalo, maka puluhan hingga ratusan ribu lapangan kerja akan tercipta bagi masyarakat.
Sebagai daerah agraris dan maritim, Gorontalo memiliki kekuatan besar pada sektor pertanian dan perikanan. Rachmat Gobel memandang kedua sektor tersebut harus menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Karena itu ia mendorong modernisasi pertanian, penguatan koperasi, peningkatan nilai tambah hasil panen melalui industrialisasi, serta pengembangan industri pengolahan hasil laut agar masyarakat tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi menikmati nilai ekonomi yang lebih tinggi. Gagasan ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan secara berkelanjutan.
Dalam berbagai kunjungan kerja, Rachmat Gobel tidak hanya melihat persoalan yang dihadapi masyarakat desa, tetapi juga potensi yang dapat dikembangkan.
Saat mengunjungi Komunitas Adat Terpencil di Dusun Buade, Kabupaten Gorontalo Utara, ia menawarkan konsep pembangunan desa wisata sebagai solusi jangka panjang pascabencana. Menurutnya, keindahan alam, sungai yang bersih, dan budaya lokal dapat menjadi sumber ekonomi baru apabila dikelola secara baik oleh masyarakat sendiri. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak sekadar memperbaiki kerusakan, tetapi menciptakan masa depan yang lebih baik.
Di luar tugas kenegaraan, banyak masyarakat mengenang Rachmat Gobel sebagai sosok yang mudah ditemui dan tidak membatasi diri dengan protokoler. Ia dikenal sering membantu biaya pendidikan, pengobatan, rumah ibadah, korban bencana, penyandang disabilitas, hingga keluarga kurang mampu. Banyak bantuan diberikan tanpa sorotan publik, sehingga meninggalkan kesan sebagai bentuk kepedulian yang tulus.
Sebagai wakil rakyat dari Gorontalo, Rachmat Gobel sangat aktif memperjuangkan berbagai kebutuhan daerah di tingkat nasional. Ia terlibat dalam pembahasan program strategis seperti penyelesaian Proyek Strategis Nasional Waduk Bulango Ulu, penguatan infrastruktur, dan berbagai agenda pembangunan yang dinilai penting bagi percepatan ekonomi Gorontalo. Perannya kerap dipandang sebagai jembatan komunikasi antara aspirasi daerah dan kebijakan pemerintah pusat.
Olehnya, kepergian Rachmat Gobel menyisakan pekerjaan besar yang belum sepenuhnya selesai. Namun, ia telah mewariskan arah pembangunan yang jelas seperti pendidikan sebagai fondasi, industrialisasi sebagai mesin pertumbuhan, pemberdayaan UMKM sebagai penggerak ekonomi rakyat, investasi sebagai pencipta lapangan kerja, serta pembangunan desa sebagai basis pemerataan kesejahteraan.
Warisan tersebut bukan sekadar program, melainkan cara pandang bahwa pembangunan harus dimulai dari manusia dan kembali untuk kesejahteraan manusia.
Banyak masyarakat Gorontalo berharap semangat pengabdian yang diwariskan Rachmat Gobel, tidak berhenti bersama kepergiannya. Mereka menginginkan agar gagasan besar mengenai pendidikan, pemberdayaan ekonomi rakyat, penguatan sektor pertanian dan perikanan, serta pembangunan kawasan timur Indonesia tetap menjadi agenda utama para pemimpin berikutnya.
Pengabdian sejati tidak diukur dari berapa lama seseorang memegang jabatan, tetapi dari seberapa jauh jejaknya tetap hidup dalam kehidupan masyarakat. Dalam hal itu, nama Rachmat Gobel telah meninggalkan jejak yang akan terus dikenang sebagai salah satu putra terbaik Gorontalo yang memilih membangun daerahnya dengan gagasan, kerja nyata, dan kepedulian.
Bahkan, sebagian orang menegaskan bahwa dibutuhkan waktu 100 hingga 1000 tahun lagi hingga akhirnya muncul Rachmat Gobel yang baru, dengan visi sosial yang sama. Begitu banyak politisi dan tokoh Gorontalo yang berkiprah dikancah Nasional, namun Rachmat Gobel dengan seluruh sumber dayanya, mampu membuat perubahan dan karya yang benar-benar nyata, hanya dalam waktu kurang dari 1 dekade saja.
“Kepergian seorang pemimpin mengakhiri langkahnya, tetapi pengabdian yang tulus akan terus hidup dalam setiap harapan masyarakat.” JFR
[***]



















