BUTOTA, GORONTALO KOTA – Puskesmas Hulondalangi terus memperkuat pelaksanaan program kesehatan, khususnya dalam penanganan penyakit menular seperti HIV, tuberkulosis (TBC), dan malaria.
Penanggung Jawab Klaster Puskesmas Hulondalangi mengatakan, program tersebut menjadi bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan yang terus dijalankan melalui berbagai kegiatan dan inovasi di wilayah kerja puskesmas.
Untuk penanganan TBC, puskesmas menjalankan sejumlah inovasi yang diarahkan untuk meningkatkan penemuan kasus sekaligus memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas.
Sementara pada program HIV, petugas melakukan pendekatan ke wilayah yang dinilai memiliki risiko penularan. Kegiatan tersebut dilakukan dengan mengidentifikasi lokasi yang berisiko kemudian melakukan kunjungan dan pemeriksaan.
“Untuk HIV sendiri ada namanya pedelokif, pendekatan ke daerah yang berisiko HIV,” ujar penanggung jawab program.
Sedangkan untuk malaria, pemantauan terhadap pasien dilakukan secara langsung hingga ke rumah. Masyarakat yang ditemukan positif malaria, termasuk pasien yang dirujuk atau diketahui dari rumah sakit, selanjutnya dipantau oleh petugas Puskesmas Hulondalangi untuk memastikan pengobatan berjalan dengan baik.
Kegiatan terbaru yang dilakukan Puskesmas Hulondalangi di antaranya skrining HIV dan TBC terhadap warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang masuk dalam wilayah kerja puskesmas.
Seluruh warga binaan di Lapas menjadi sasaran pemeriksaan sebagai bagian dari pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal bidang kesehatan.
Dari pelaksanaan program tersebut, capaian penanganan HIV hingga September tercatat sekitar 85 persen dari target yang ditetapkan. Pihak puskesmas menilai capaian tersebut cukup baik mengingat evaluasi masih berlangsung dan masih terdapat waktu hingga akhir tahun untuk mengejar target maksimal.
“Sudah 85 persen dari target 100. Ini masih triwulan ketiga, jadi masih ada tiga bulan ke depan untuk melihat sampai 100 persen capaiannya,” katanya.
Pada program TBC, peningkatan juga terlihat pada angka keberhasilan pengobatan atau *success rate*. Puskesmas Hulondalangi sebelumnya mencatat angka keberhasilan pengobatan sekitar 92 persen pada 2023. Setelah menerapkan inovasi pemantauan pasien melalui video, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 96 hingga 97 persen pada 2024-2025.
Masih adanya pasien yang tidak menyelesaikan pengobatan disebabkan berbagai faktor, di antaranya kondisi kesehatan lain atau komorbid serta kematian.
Meski capaian terus menunjukkan perkembangan, stigma terhadap penyakit menular masih menjadi salah satu kendala di lapangan, khususnya dalam penanganan TBC.
Petugas menemukan masih ada masyarakat yang enggan mengakui telah mengalami batuk dalam waktu lama karena khawatir dicap memiliki penyakit menular. Padahal, masyarakat yang mengalami batuk selama dua minggu sudah dapat menjalani skrining dan pemeriksaan dahak untuk memastikan kemungkinan TBC.
“Stigma takut dianggap mempunyai penyakit menular itu masih cukup tinggi kalau kami temukan di lapangan,” ungkapnya.
Sementara untuk HIV, kendala yang dihadapi lebih banyak berkaitan dengan pelaksanaan penjangkauan ke lokasi-lokasi berisiko. Petugas harus melakukan kunjungan pada waktu tertentu, termasuk pada malam hari, sehingga pelaksanaannya terkadang terkendala waktu dan kondisi lapangan.
Untuk sementara, Puskesmas Hulondalangi belum menyiapkan inovasi baru. Program dan inovasi yang selama ini dijalankan masih dipertahankan karena dinilai memberikan hasil yang cukup baik, khususnya dalam meningkatkan keberhasilan pengobatan pasien TBC.
“Yang kemarin masih dijalankan karena memang keberhasilannya tinggi dari inovasi yang dilakukan,” jelasnya.
Memasuki triwulan keempat, pihak puskesmas akan tetap fokus menjalankan program yang telah berjalan sekaligus mengejar target capaian hingga akhir tahun. Evaluasi akan dilakukan untuk melihat sejauh mana target pelayanan HIV, TBC dan malaria dapat tercapai di wilayah kerja Puskesmas Hulondalangi. [RAM/NA]





























