Scroll untuk baca artikel
banner 350x300
Example floating
Example floating
Kota Gorontalo

Target Three Zero Dikejar, Seluruh Pasien HIV Kota Timur Jalani Terapi

×

Target Three Zero Dikejar, Seluruh Pasien HIV Kota Timur Jalani Terapi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BUTOTA, GORONTALO KOTA – Puskesmas Kota Timur terus memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya dalam penanganan penyakit menular seperti HIV/AIDS, tuberkulosis (TBC), dan malaria.

Penanggung Jawab Klaster 4 Puskesmas Kota Timur, Aditya Eka Putra, mengatakan pelayanan kesehatan di puskesmas saat ini dilaksanakan melalui sistem lintas klaster yang mencakup berbagai kelompok pelayanan.

Advetorial

Ia menjelaskan, terdapat lima klaster pelayanan. Klaster 1 berkaitan dengan manajemen, Klaster 2 menangani ibu hamil dan imunisasi, sedangkan Klaster 3 berfokus pada usia produktif hingga lansia, termasuk penanganan penyakit kronis seperti diabetes melitus, hipertensi dan asam urat.

Iklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan Winnet

Sementara itu, Klaster 4 secara khusus menangani penyakit menular dan kesehatan lingkungan, termasuk HIV/AIDS, TBC dan malaria. Adapun Klaster 5 mencakup pelayanan lintas klaster seperti kefarmasian, dokter gigi dan ruang tindakan.

“Klaster 4 itu bergaris bawah pada HIV/AIDS, TBC dan malaria, yang merupakan program penyakit menular dan kesehatan lingkungan,” kata Aditya.

Dalam penanganan HIV, Puskesmas Kota Timur telah menyediakan layanan PDP atau Perawatan Dukungan Pengobatan. Layanan tersebut mencakup pemeriksaan HIV secara gratis hingga pengobatan bagi pasien yang dinyatakan positif.

Menurut Aditya, sejak 2022 Puskesmas Kota Timur sudah mampu memberikan pelayanan pengobatan HIV secara mandiri. Pelayanan tersebut melengkapi penanganan TBC dan malaria yang sebelumnya telah berjalan.

Dari sisi capaian, penanganan HIV di wilayah Kota Timur menunjukkan hasil yang cukup baik. Aditya mengatakan seluruh pasien yang ditemukan positif HIV telah mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV).

Ia menjelaskan, program penanggulangan HIV secara nasional memiliki target *Three Zero* yang salah satunya didorong melalui *triple elimination*. Dalam target tersebut, sedikitnya 95 persen orang yang dinyatakan positif HIV diharapkan mengakses pengobatan ARV.

“Di Kota Timur, seluruh pasien yang ditemukan positif HIV semuanya mendapatkan pengobatan,” ujarnya.

Setelah mendapatkan pengobatan, pasien juga menjalani pemeriksaan *viral load* untuk mengetahui jumlah virus dalam tubuh. Aditya menyebut hasil pemeriksaan pasien yang menjalani pengobatan menunjukkan kondisi virus yang tersupresi.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan pengobatan karena ketika *viral load* tersupresi hingga berada di bawah standar, risiko penularan HIV kepada orang lain dapat ditekan secara signifikan.

Namun demikian, pelaksanaan program penanggulangan HIV dan TBC masih menghadapi persoalan yang tidak mudah. Aditya menyebut stigma dan diskriminasi di masyarakat sebagai salah satu tantangan terbesar.

Pasien HIV maupun TBC, kata dia, masih ada yang takut datang ke puskesmas untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan karena khawatir mendapat perlakuan berbeda dari keluarga, lingkungan sekitar, bahkan petugas kesehatan.

“Kendala yang paling sulit adalah diskriminasi. Melawan stigma di masyarakat jauh lebih susah daripada melakukan tes dan pengobatan,” ungkapnya.

Karena itu, Puskesmas Kota Timur akan terus meningkatkan promosi dan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Edukasi tidak hanya dilakukan di fasilitas kesehatan, tetapi juga diarahkan ke lingkungan tempat tinggal masyarakat.

Aditya menegaskan, keberhasilan pengobatan pasien HIV, TBC maupun malaria tidak dapat hanya mengandalkan tenaga kesehatan. Dukungan keluarga, kader dan lintas sektor juga sangat dibutuhkan agar pasien dapat menjalani pengobatan secara tuntas.

Selain edukasi, pihak puskesmas juga terus melakukan *screening* secara berlapis. Warga yang dinilai memiliki faktor risiko akan segera ditindaklanjuti melalui pemeriksaan, pengobatan hingga pelacakan atau *tracing* terhadap anggota keluarga terdekat.

“Kalau ditemukan warga yang berisiko, maka tes, pengobatan sampai *tracing* keluarga terdekat akan langsung ditindaklanjuti,” jelas Aditya.

Ia berharap keterlibatan masyarakat dalam mendukung program kesehatan semakin kuat sehingga upaya pencegahan, penemuan kasus dan pengobatan penyakit menular dapat berjalan lebih maksimal. [RAM/NA]

Example 120x600
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *