Scroll untuk baca artikel
banner 350x300
Example floating
Example floating
Tajuk & Opini

Catatan Kecil Di Hari Bhakti Adhyaksa 2026, Tentang Sebuah Kemitraan

×

Catatan Kecil Di Hari Bhakti Adhyaksa 2026, Tentang Sebuah Kemitraan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Jeffry As. Rumampuk

Founder Butota – Inisiator Forum Wartawan Kejaksaan (FORWAKA) Wilayah Gorontalo

Advetorial

BUTOTA – OPINI, Hari Bhakti Adhyaksa ke-66 bukan sekadar momentum memperingati bertambahnya usia institusi Kejaksaan Republik Indonesia. Bagi saya, tanggal ini selalu membawa ingatan pada sebuah perjalanan panjang yang pernah dilalui bersama insan Adhyaksa di Gorontalo.

Perjalanan itu bukan sebagai jaksa, bukan pula sebagai pegawai kejaksaan.

Melainkan sebagai seorang wartawan yang sejak lama menjadikan Kejaksaan Tinggi Gorontalo sebagai salah satu pos liputan utama, sekaligus menjadi saksi bagaimana institusi ini terus berbenah dari waktu ke waktu.

Di balik ribuan berita yang pernah terbit, ratusan konferensi pers, puluhan kegiatan penyuluhan hukum, hingga berbagai pengungkapan perkara besar yang menjadi perhatian publik, ada satu ruang kecil yang pernah menjadi rumah bagi para wartawan peliput kejaksaan.

Rumah itu bernama Forum Wartawan Kejaksaan (FORWAKA) Wilayah Gorontalo.

Forum ini lahir pada tahun 2018, ketika Kejaksaan Tinggi Gorontalo dipimpin oleh Dr. Firdaus Dewilmar, SH., M.Hum. Pada masa itu muncul sebuah gagasan sederhana, namun memiliki tujuan besar, yakni membangun jembatan komunikasi yang sehat antara institusi Kejaksaan dan insan pers.

Kami percaya, penegakan hukum yang baik membutuhkan keterbukaan informasi. Sebaliknya, keterbukaan informasi membutuhkan media yang profesional, independen, dan memahami substansi hukum.

Dari keyakinan itulah FORWAKA dibentuk, bukan sebagai organisasi yang mencari keuntungan, bukan pula sebagai alat kepentingan, tetapi sebagai wadah profesional wartawan yang sehari-hari meliput Kejaksaan Tinggi Gorontalo.

Sejak awal, FORWAKA berada di bawah koordinasi Bidang Intelijen Kejaksaan Tinggi Gorontalo, karena bidang inilah yang memiliki tugas membangun komunikasi publik, penyuluhan hukum, serta penyebarluasan informasi kelembagaan.

Kemitraan itu dimulai ketika Asisten Intelijen Ardito Muwardi, SH., MH membuka ruang komunikasi yang sangat baik dengan wartawan. Di masa itu hubungan antara kejaksaan dan media dibangun atas dasar saling menghormati profesi.

Tradisi tersebut kemudian diteruskan oleh Puji Triasmoro sebagai Asisten Intelijen berikutnya, hingga akhirnya berlanjut pada masa Otto Sompotan, SH., MH, yang terus menjaga pola komunikasi yang terbuka dengan insan pers.

Selama bertahun-tahun, FORWAKA menjadi mitra strategis Kejaksaan Tinggi Gorontalo dalam menyebarluaskan informasi kepada masyarakat. Wartawan yang tergabung di dalamnya hadir hampir di setiap agenda kelembagaan, mulai dari penerangan hukum, program Jaksa Masuk Sekolah, penyuluhan hukum kepada masyarakat, pemusnahan barang bukti, konferensi pers perkara tindak pidana khusus maupun umum, kegiatan sosial, hingga publikasi capaian kinerja Kejati Gorontalo.

Peran tersebut sejalan dengan harapan Kejaksaan agar media menjadi jembatan antara institusi dan masyarakat. Bahkan pada Musyawarah Wilayah I FORWAKA tahun 2023, Kajati Gorontalo saat itu, Haruna, SH., MH, menyampaikan bahwa FORWAKA tidak hanya membantu menyosialisasikan program kejaksaan, tetapi juga memberikan kritik, saran, dan masukan dari masyarakat yang berguna bagi perbaikan institusi. Pemerintah Provinsi Gorontalo juga menyambut baik keberadaan FORWAKA sebagai wadah wartawan yang mengawal informasi penegakan hukum.

Perjalanan FORWAKA melintasi beberapa periode kepemimpinan Kepala Kejaksaan Tinggi Gorontalo.

Dimulai pada masa Dr. Firdaus Dewilmar, SH., M.Hum, kemudian berlanjut di bawah kepemimpinan Jaja Subagja, SH., MH, selanjutnya diteruskan pada masa **Rizal Nurul Fitri, SH, lalu memasuki era Haruna, SH., MH, hingga akhirnya tetap eksis dan terkoordinasi pada masa Purwanto Joko Irianto

Setiap pergantian pimpinan membawa warna tersendiri.

Namun satu hal yang tidak pernah berubah adalah semangat membangun komunikasi yang sehat antara institusi penegak hukum dengan media.

Selama FORWAKA berdiri, berbagai kegiatan berhasil dilaksanakan, diskusi hukum, bakti sosial, silaturahmi antara wartawan dan insan Adhyaksa, penghargaan kepada mitra strategis penyebarluasan informasi, pendampingan publikasi berbagai program Kejati Gorontalo, serta menjadi ruang diskusi ketika muncul kritik maupun isu yang berkembang di tengah masyarakat.

Tidak semua organisasi mampu bertahan menghadapi dinamika.

Begitu pula FORWAKA.

Setelah mengabdi selama kurang lebih enam tahun, organisasi ini akhirnya dibekukan.

Tidak sedikit yang merasa kehilangan.

Karena FORWAKA bukan sekadar nama, organisasi ini adalah ruang kebersamaan.

Tempat bertukar pikiran, tempat belajar memahami hukum.

Sekaligus wadah menjaga keseimbangan antara fungsi kontrol media dan kebutuhan institusi dalam menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat.

Meski demikian, setiap organisasi memiliki masanya.

Yang terpenting bukan berapa lama ia berdiri.

Tetapi seberapa besar manfaat yang pernah ditinggalkan.

Saya percaya, jejak FORWAKA masih tersimpan dalam ribuan berita yang pernah dipublikasikan, dalam dokumentasi berbagai kegiatan Kejaksaan Tinggi Gorontalo, dan dalam hubungan baik yang hingga kini tetap terjalin antara insan pers dengan keluarga besar Adhyaksa.

Hari ini, ketika Hari Bhakti Adhyaksa kembali diperingati, saya tidak sedang mengenang sebuah organisasi semata.

Saya sedang mengenang sebuah semangat.

Semangat bahwa media dan kejaksaan dapat berjalan berdampingan tanpa kehilangan independensinya masing-masing.

Media tetap menjalankan fungsi kontrol., Kejaksaan tetap menjalankan fungsi penegakan hukum.

Keduanya dipertemukan oleh satu tujuan yang sama, yakni menghadirkan informasi yang benar, membangun kepercayaan publik, dan menjaga demokrasi.

Selamat Hari Bhakti Adhyaksa ke-66.

Terima kasih kepada seluruh Kepala Kejaksaan Tinggi Gorontalo, para Asisten Intelijen, para jaksa, pegawai, serta seluruh sahabat wartawan yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang ini.

 

Mungkin FORWAKA telah berhenti sebagai organisasi. Namun persahabatan, pengabdian, dan kenangan yang pernah dibangun bersama akan tetap hidup dalam ingatan.

Karena sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang berkuasa. Kadang, sejarah juga ditulis oleh mereka yang setia mendokumentasikan setiap langkahnya. [**]

Example 120x600
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *