BUTOTA, GORONTALO KOTA— RSUD Otanaha Kota Gorontalo, menyiapkan layanan pemeriksaan rontgen gratis bagi 1.000 masyarakat yang terjaring dalam program penemuan kasus tuberkulosis (TBC).
Program ini, menjadi bagian dari upaya mempercepat deteksi dan penanganan TBC di Kota Gorontalo. Sasaran pemeriksaan merupakan masyarakat yang memiliki gejala, seperti batuk, dan telah terjaring melalui puskesmas dalam sistem informasi TBC.
Pelaksana Tugas Direktur RSUD Otanaha dr. Syahrawanti Abbas mengatakan, pemeriksaan dilakukan secara bertahap melalui koordinasi dengan puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Gorontalo.
“1.000 yang terjaring lewat aplikasi itu, ini sementara berlangsung sampai bulan depan. Nanti bergiliran dibuatkan jadwal,” ujarnya.
Pasien yang mengikuti pemeriksaan juga, mendapat bantuan sembako berupa 500 gram gula dan satu liter minyak goreng sebagai pengganti biaya transportasi. Selain TBC, RSUD Otanaha memperkuat layanan HIV. Dimana, Tim pencatatan dan pelaporan HIV telah dibentuk untuk mengoordinasikan pelayanan, termasuk pemeriksaan silang antara pasien HIV dan TBC.
“Pasien HIV kita periksa TBC, begitu juga pasien TBC diperiksa HIV,” jelas Syahrawanti.
Di sisi lain, manajemen RSUD Otanaha tengah memetakan pengembangan layanan yang dinilai memiliki potensi meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus pendapatan rumah sakit.
Pengembangan layanan tersebut, kata Syahrawanti dilakukan menyusul penurunan pendapatan yang disebut mencapai sekitar Rp10 miliar per bulan. Rumah sakit, juga mengevaluasi penurunan kunjungan pasien dan potensi kehilangan pendapatan setiap pekan.

“Yang kita lakukan sekarang mengidentifikasi layanan mana yang bisa mendongkrak pendapatan. Ini masih dalam tahap pemetaan,” kata dia.
Untuk meningkatkan kapasitas pelayanan, RSUD Otanaha juga menyiapkan pengembangan fasilitas. Proses pembebasan lahan di bagian belakang rumah sakit tengah berjalan dan selanjutnya direncanakan menjadi dasar pengusulan pembangunan ruang rawat inap kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan. Pengembangan tersebut sekaligus diarahkan untuk menyesuaikan fasilitas dengan penerapan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS).
“Sekarang ada ruangan yang tujuh sampai delapan pasien. Sementara konsep KRIS satu unit itu empat orang. Ini yang mau diperbaiki,” ujarnya.
Manajemen juga membuka peluang dukungan dari berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan pembangunan fasilitas dan alat kesehatan.
Meski masih melakukan pembenahan internal, Direktur RSUD Otanaha menyebut tingkat keluhan masyarakat sejauh ini relatif rendah. Evaluasi pelayanan tetap dilakukan, terutama terkait fasilitas, ketersediaan tempat tidur, komunikasi antarpetugas dan tata kelola rumah sakit.
“Kita masih banyak yang harus dibenahi. Yang penting sekarang pelayanan, fasilitas dan tata kelola terus kita perbaiki,” pungkasnya. [NA-RAM]



















