“Ketika bahasa ibu perlahan menjauh dari rumah, sebuah kota mencoba memanggilnya pulang, ulasan sederhana tentang Keputusan Walikota Gorontalo mewajibkan berbahasa Gorontalo,”
Oleh : Husin Ali - Antropolog,anak Gorontalo
BUTOTA, OPINI – Suatu pagi, saya mendengar seorang ibu berbicara kepada anaknya dalam Bahasa Gorontalo. Sang anak mendengarkan dengan saksama, tetapi sesekali wajahnya menunjukkan tanda bertanya. Ia memahami sebagian, tetapi tidak seluruhnya.
Percakapan itu sederhana. Tidak ada yang istimewa. Tetapi justru dalam kesederhanaan itulah saya melihat sesuatu yang sedang berubah di Gorontalo.
Dulu, seorang anak belajar bahasa bukan dari buku. Ia belajar dari suara ibunya ketika dibangunkan, dari nasihat ayahnya, dari cerita neneknya, dari percakapan tetangga, dari candaan di halaman rumah. Bahasa tumbuh bersama kehidupan. Anak tidak merasa sedang belajar bahasa karena bahasa memang menjadi bagian dari hidupnya.
Kini keadaan mulai berbeda.
Dalam sebuah diskusi tentang ortografi Bahasa Gorontalo, muncul kegelisahan yang sulit diabaikan: festival budaya dan bahasa semakin banyak, tetapi penggunaan Bahasa Gorontalo dalam kehidupan sehari-hari justru semakin sulit ditemukan.
Paradoks itu seharusnya membuat kita berhenti sejenak.
Kita mungkin semakin rajin mempertunjukkan kebudayaan, tetapi apakah kita masih menghidupinya? Kita mungkin semakin sering berbicara tentang bahasa daerah, tetapi apakah anak-anak kita masih menggunakannya?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika Kepala Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo menggambarkan kondisi Bahasa Gorontalo yang dalam banyak ruang tidak lagi berfungsi sebagai bahasa ibu, melainkan mulai terasa sebagai bahasa kedua. Ibu tidak lagi selalu menggunakan Bahasa Gorontalo ketika merawat dan berbicara dengan anaknya seperti generasi terdahulu.
Bagi saya, ini bukan sekadar persoalan linguistik. Bahasa adalah ingatan yang bersuara. Di dalam bahasa tersimpan cara kita memanggil orang tua, menghormati yang lebih tua, menyapa tetangga, bercanda dengan teman, menasihati anak, mengenali alam, dan memahami hubungan manusia dengan sesamanya. Ketika sebuah bahasa perlahan kehilangan penuturnya, yang terancam hilang bukan hanya sejumlah kata. Yang ikut menjauh adalah cara suatu masyarakat memahami dirinya sendiri.
Hari ini rasanya butuh Sebuah kebijakan yang membuka pintu. Karena itu, langkah Pemerintah Kota Gorontalo yang mulai membiasakan penggunaan Bahasa Gorontalo pada hari-hari tertentu, termasuk Selasa dan Kamis, menurut saya perlu dibaca sebagai sebuah awal yang penting.
Bukan karena dua hari itu akan menyelamatkan bahasa. Tidak. Nilainya justru terletak pada keberanian untuk memulai kembali.
Sebuah pemerintah kota sedang mencoba membawa bahasa yang selama ini semakin banyak dibicarakan kembali ke ruang tempat bahasa seharusnya hidup: percakapan. Di kantor, sekolah, masyarakat, dan kehidupan sehari-hari.
Tetapi di sinilah kita perlu berhati-hati. Jangan sampai kebijakan itu berhenti sebagai kewajiban administratif. Jangan sampai pada Selasa dan Kamis orang dipaksa berbicara Bahasa Gorontalo, sementara pada hari-hari lainnya bahasa tersebut kembali menghilang.
Kalau itu yang terjadi, kita hanya menciptakan jadwal berbahasa, bukan budaya berbahasa. Padahal yang kita perlukan jauh lebih dalam. Kita perlu membuat Bahasa Gorontalo kembali menjadi sesuatu yang alami.
Bahasa yang digunakan seorang ibu ketika berbicara kepada anaknya. Bahasa yang digunakan guru ketika membuka percakapan di kelas. Bahasa yang digunakan seorang pegawai ketika menyapa masyarakat. Bahasa yang terdengar di halaman sekolah, di pasar, di ruang keluarga, bahkan di layar telepon genggam anak-anak.
Di situlah sebuah bahasa benar-benar hidup. Sekolah akan menjadi jalan pulang sebuah bahasa.
Gorontalo sebenarnya tidak memulai dari ruang kosong. Kota ini sudah memiliki buku muatan lokal Bahasa Gorontalo dan buku guru. Namun persoalan yang ditemukan di sekolah bukan semata-mata ketiadaan buku. Kompetensi guru dan konsistensi penggunaannya masih menjadi tantangan. Bahkan dalam pengawalan di sekolah ditemukan guru yang belum konsisten dan terus berganti.
Ini pelajaran penting. Kita sering mengira bahwa ketika buku sudah tersedia, persoalan pendidikan selesai. Padahal buku hanyalah alat. Yang menentukan adalah manusia yang menggunakan alat itu.
Karena itu, jika kita ingin menghidupkan kembali Bahasa Gorontalo melalui sekolah, maka guru harus ditempatkan di pusat gerakan. Mereka bukan sekadar pelaksana kurikulum, tetapi pewaris kebudayaan.
Guru harus merasa cukup percaya diri untuk menggunakan bahasa itu. Anak-anak harus menemukan bahwa bahasa tersebut menyenangkan. Materinya harus dekat dengan kehidupan mereka. Cerita, permainan, seni, Pramuka, percakapan, bahkan pengalaman sehari-hari dapat menjadi pintu masuk.
Sebab anak tidak akan mencintai bahasa hanya karena diperintahkan untuk menghafalnya. Anak mencintai bahasa ketika bahasa itu memberinya pengalaman.
Di sinilah saya melihat hubungan yang kuat dengan gagasan menjadikan Kota Gorontalo sebagai ruang belajar. Ruang belajar tidak cukup hanya menyediakan gedung, meja, kursi, buku, dan teknologi. Ruang belajar juga harus memberi anak rasa bahwa ia memiliki akar.
Anak boleh belajar kecerdasan buatan. Boleh menguasai teknologi. Boleh berbahasa Inggris. Boleh bermimpi sekolah di kota lain, bahkan di negara lain. Tetapi ketika ia pulang, ia seharusnya masih mengenali suara kampung halamannya.
Ada sesuatu yang sering kita lupa dalam pembicaraan tentang generasi unggul. Kita terlalu cepat mengukur masa depan dari kemampuan anak menguasai teknologi, sementara jarang bertanya apakah ia masih merasa memiliki hubungan dengan tempat asalnya.
Padahal manusia yang kehilangan hubungan dengan akar budayanya dapat menjadi sangat modern, tetapi belum tentu merasa memiliki rumah. Bahasa adalah salah satu rumah itu.
Mari kita lihat dari dua hari menuju budaya berbahasa gorontalo di Kota Gorontalo. Kebijakan Bahasa Gorontalo seharusnya tidak berhenti pada Selasa dan Kamis. Dua hari itu dapat menjadi pintu masuk menuju sesuatu yang lebih besar: sebuah gerakan untuk mengembalikan bahasa ke dalam kehidupan.
Forum diskusi bahkan mengingatkan bahwa pembagian porsi penggunaan bahasa secara mingguan belum menjamin keberhasilan. Bahasa membutuhkan pengajaran yang profesional, konsistensi, penyesuaian dengan kemampuan anak, serta mekanisme yang terukur. Artinya, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai setelah SK ditetapkan.
Kita membutuhkan guru yang siap. Kita membutuhkan bahan ajar yang hidup. Kita membutuhkan keluarga yang ikut berbicara. Kita membutuhkan madrasah yang terlibat. Kita membutuhkan seniman, sastrawan, akademisi, komunitas dan media yang ikut bekerja.
Di dalam diskusi itu bahkan muncul gagasan agar jangan hanya TK, SD dan SMP di Kota Gorontalo saja, tetapi 31 madrasah di Kota Gorontalo diharapkan ikut menjadi bagian dari kebijakan bahasa. Saya kira gagasan semacam ini penting karena bahasa tidak pernah hidup hanya di satu lembaga. Bahasa hidup dalam ekosistem.
Kini, Ketika bahasa memasuki dunia digital kita bisa melihatnya. Ekosistem yang memiliki satu ruang baru yang tidak boleh kita abaikan: ruang digital. Anak-anak kita tidak hanya tinggal di rumah dan sekolah. Mereka juga tinggal di YouTube, TikTok, gim, podcast, media sosial, dan berbagai ruang digital lainnya.
Kalau Bahasa Gorontalo tidak hadir di sana, kita sedang membiarkan generasi baru mencari dunianya sendiri tanpa membawa bahasa leluhurnya. Karena itu, kita perlu mulai membangun kamus digital, cerita digital, podcast anak, video pendek, dokumentasi tutur para tetua, permainan bahasa, hingga bahan pembelajaran digital. Suatu saat, bukan tidak mungkin Bahasa Gorontalo menjadi bagian dari teknologi kecerdasan buatan.
Bukan agar bahasa daerah sekadar tampak modern. Tetapi agar ia tetap memiliki masa depan, dan Kota Gorontalo sebagai tempat memulai. Di sinilah Gorontalo dapat memulai sesuatu yang lebih besar.
Kebijakan bahasa tidak perlu berhenti sebagai kebijakan sebuah kota. Ia dapat menjadi sebuah laboratorium kecil tentang bagaimana bahasa daerah dihidupkan kembali di tengah perubahan zaman.
Rumah menjadi tempat pertama. Sekolah menjadi tempat penguatan. Pemerintahan memberi teladan. Masyarakat menyediakan ruang penggunaan. Dunia digital menjadi ruang pewarisan baru. Jika semua bergerak bersama, kita tidak lagi berbicara tentang pelestarian bahasa. Kita sedang berbicara tentang menghidupkan bahasa.
Perbedaannya mungkin terdengar kecil, tetapi maknanya besar. Sesuatu yang dilestarikan bisa saja hanya disimpan agar tidak hilang. Sesuatu yang dihidupkan harus digunakan, dirawat, berkembang, dan diwariskan.
Karena itu, saya tertarik pada satu kalimat yang muncul menjelang akhir diskusi: “Jangan sampai diskusi ini berakhir pada diskusi.” Kalimat itu seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua. Kita tidak kekurangan seminar tentang kebudayaan. Kita tidak kekurangan festival. Kita juga tidak kekurangan pidato tentang pentingnya menjaga bahasa daerah.
Yang kita perlukan adalah keberanian mengubah pembicaraan menjadi kebiasaan. Mungkin dari Gorontalo kita dapat memulainya. Bukan dengan mengklaim bahwa kita telah menemukan jawaban paling sempurna. Bukan pula dengan memaksa masyarakat kembali ke masa lalu.
Justru sebaliknya, kita sedang mencoba menjawab pertanyaan masa depan: bisakah sebuah bahasa daerah tetap hidup ketika generasinya semakin digital, semakin mobile, semakin terbuka kepada dunia?
Gorontalo dapat mencoba menjawabnya. Dimulai dari sebuah kebijakan. Dilanjutkan di sekolah. Diperkuat di rumah. Dihidupkan di masyarakat. Dan akhirnya dibawa ke ruang digital.
Jika kelak pengalaman itu berhasil, ia tidak harus berhenti di Gorontalo. Ia dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain yang menghadapi persoalan serupa. Barangkali inilah makna yang lebih dalam dari sebuah SK Wali Kota. Bukan sekadar mengatur kapan orang berbicara Bahasa Gorontalo. Tetapi membuka kembali kesempatan agar sebuah bahasa memiliki masa depan.
Sebab manusia boleh berjalan sejauh-jauhnya. Anak-anak kita boleh pergi ke mana saja, menguasai ilmu apa saja, dan hidup di zaman apa saja. Tetapi mereka tetap membutuhkan jalan untuk pulang.
Dan bahasa adalah salah satu jalan pulang itu. Maka biarlah Gorontalo memulai. Bukan sekadar menjaga bahasa agar tidak mati. Tetapi mengembalikannya menjadi suara kehidupan. Pertegas ajakan pada keluarga dan sekolah. [**]



























