BUTOTA – GORONTALO | Kembali, Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Gorontalo diterpa isu tak sedap. Pasalnya, sejumlah tangkapan layar percakapan WhatsApp, diduga melibatkan Anggota Legislatif (Aleg) dinilai mengandung konten tidak pantas dan berpotensi melanggar norma kesusilaan.
Dalam tangkapan layar yang diterima redaksi, percakapan tersebut diduga terkait dengan seorang wanita yang memiliki hubungan keluarga dengan rekan kerja sang legislator menara.
” Anggota dewan yang bersangkutan ini, berasal dari partai politik yang mengusung nilai-nilai keagamaan dalam platform politiknya. Sementara si wanita, adalah adik dari legislator senior yang memiliki background keagamaan, ” Kata Firman Ali, salah seorang masyarakat Kabgor.
Firman menyebut, bahwa dirinya akan membongkar secara keseluruhan seperti apa modus dari oknum Aleg tersebut. Bahkan dirinya akan membawa persoalan ini ke ranah hukum, karena dinilai telah mencoreng kredibilitas dari lembaga wakil rakyat.
Firman menegaskan bahwa tindakan oknum legislator tersebut bukan sekadar persoalan moral pribadi, melainkan telah melampaui batas kewajaran dan berpotensi melanggar hukum.
“Ini bukan lagi masalah internal partai atau keluarga. Ketika seorang wakil rakyat yang dipercaya masyarakat melakukan perbuatan asusila, maka rakyat berhak menuntut pertanggungjawaban,” tegasnya dengan nada tegas.
Menurutnya, bukti percakapan yang ada menunjukkan pola pelecehan dan intimidasi yang sistematis.

” Di Screenshoot itu, oknum aleg ini selalu mengancam para wanita yang telah berhubungan, dengan modus menggunakan video yang direkamnya untuk dapat berhubungan lagi dengan dia. Kami akan melaporkan hal ini ke Polres Gorontalo, Badan Kehormatan DPRD, dan jika perlu hingga ke Komnas Perempuan. Oknum ini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum,” ujar Firman.

Ia juga menyoroti ironi yang terjadi, di mana partai politik yang menggunakan simbol-simbol keagamaan justru memiliki kader yang bertindak bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka usung.
“Ini tamparan keras bagi kredibilitas partai dan DPRD secara keseluruhan. Masyarakat sudah muak dengan elite politik yang bermuka dua di publik menjual kesalehan, tetapi di belakang layar melakukan hal-hal yang memalukan,” tandasnya.
“Jika Anda masih punya hati nurani dan rasa malu, segera mundur dari jabatan secara terhormat sebelum aib ini semakin terbuka lebar. Rakyat yang memilih Anda memiliki hak untuk tahu siapa sebenarnya yang mereka percayai.” sambung Firman.
Terakhir, Firman menegaskan bahwa bukti digital yang ada adalah simbol kemarahan rakyat. Sehingga dirinya meminta kepada oknum Aleg agar tidak meremehkan bukti digital tersebut.
” Jangan pernah meremehkan kekuatan bukti digital dan kemarahan rakyat. Kami tidak akan diam melihat lembaga wakil rakyat dinodai oleh oknum yang tidak bermoral. Hukum akan berjalan, dan kami akan terus mengawal proses ini hingga tuntas.” Tutup Firman. [JFR]



















