BUTOTA, GORONTALO KOTA – Pemerintah Kelurahan Tamalate, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, terus menggenjot berbagai program pembangunan dan pelayanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Pengoptimalan dana kelurahan, dinamika data bantuan sosial (bansos), hingga pengelolaan sampah menjadi fokus utama Lurah Tamalate, Non Basalama.
Terkait pemanfaatan dana kelurahan, Non menyebut progresnya kini telah memasuki tahap kedua.
“Untuk dana kelurahan, sekarang sudah tahap dua. Kurang lebih Rp140 juta yang sudah terealisasi. Untuk tahap berikutnya, kami harus menyelesaikan SPJ tahap pertama dan kedua terlebih dahulu,” ujar Non Basalama.
Program fisik di lapangan juga terus dikebut secara bertahap dengan memberdayakan Kelompok Masyarakat (Pokmas) setempat.
“Sekarang sudah masuk kegiatan keempat. Ada enam kegiatan, di antaranya rehabilitasi jalan satu kegiatan dan pembersihan saluran sebanyak lima kegiatan. Untuk saluran sendiri, sekarang sudah masuk kegiatan kedua dan sementara berjalan ke kegiatan berikutnya,” jelasnya.
“Kalau kendala sebenarnya tidak ada. Dana kelurahan ini pelaksanaannya melalui pihak ketiga, dalam hal ini Pokmas yang melaksanakan pekerjaan,” tambahnya.
Selain urusan infrastruktur, Non juga menyoroti persoalan bansos yang kerap menjadi pertanyaan warga. Banyak warga yang sebelumnya menerima bantuan, tiba-tiba namanya hilang dari daftar akibat pergeseran status kesejahteraan dari desil 1-4 menjadi desil 5 atau 6.
“Kadang masyarakat sebelumnya menerima bantuan, tetapi ketika datanya berubah naik ke desil 5 atau 6, otomatis nama mereka tidak lagi terdapat sebagai penerima. Ini yang sering mereka pertanyakan kepada kami,” ungkap Non.
Sebagai langkah antisipasi, pihak kelurahan berkomitmen untuk melakukan evaluasi dan pengusulan kembali pada tahun mendatang bagi warga yang benar-benar masih layak dibantu.
“Insyaallah tahun depan kami berusaha membantu masyarakat yang memang masih tercatat sebagai masyarakat tidak mampu. Kalau memang masih berhak menerima, kami akan usulkan melalui Dinas Sosial agar bisa dilakukan pembaruan data,” tegasnya.
Di sektor pembinaan umat, Kelurahan Tamalate juga aktif menghidupkan majelis-majelis keagamaan.
“Kalau kegiatan keagamaan, sekarang ada barzanji dan kasidah. Untuk tadarus juga biasanya masyarakat melaksanakannya di masjid,” terangnya.
Meski berbagai program berjalan lancar, Non memberikan catatan khusus terkait kesadaran lingkungan, terutama masalah kedisiplinan membuang sampah dan pembayaran retribusi kebersihan yang masih sering diabaikan warga.
“Yang perlu kita lakukan adalah membayar retribusi sampah. Retribusi itu untuk pelayanan kepada masyarakat dan diharapkan masyarakat dapat menyelesaikannya dengan baik,” tuturnya.
“Kami menyampaikan kepada seluruh masyarakat Kelurahan Tamalate untuk membuang sampah tidak sembarangan, membayar retribusi sampah setiap bulan dan membayar pajak setiap tahun,” imbau Non.
Sebagai penutup, ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersinergi menjaga kondusifitas dan silaturahmi di wilayah Tamalate.
“Selalu menjaga kebersihan lingkungan Kelurahan Tamalate, menjaga ketertiban dan keamanan, serta selalu menjaga kekompakan dan kekeluargaan masyarakat Kelurahan Tamalate,” pungkasnya. [AH/Z]





























