BUTOTA – BOALEMO, Penjelasan Kepolisian Resor (Polres) Boalemo terkait penertiban aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Sambati, justru menimbulkan ketidakpercayaan terhadap lembaga tersebut.
Berdasarkan informasi yang beredar, aktivitas PETI di lokasi tersebut masih berlangsung secara terbuka dengan melibatkan sedikitnya 9 unit alat berat yang dikendalikan oleh empat orang pengusaha.
Sumber yang namanya enggan disebutkan namanya mengungkapkan, keempat pelaku usaha, yang diduga mengoperasikan alat berat di lokasi PETI Sambati masing-masing berinisial RJ alias Riko menggunakan 2 unit alat berat, Ko DD menggunakan 3 unit alat berat, Ko FN menggunakan 2 unit alat berat dan OM menggunakan 2 unit alat berat.
“Total alat berat yang masih beroperasi di lokasi itu 9 unit, terus melakukan aktivitas penambangan emas tanpa izin, ” Ungkapnya.
Ironinya, lokasi aktivitas tersebut disebut-sebut tidak jauh dari wilayah pengawasan aparat kepolisian setempat, sehingga menimbulkan pertanyaan publik mengenai efektivitas pengawasan aparat di lapangan.
Dikutip dari faktanews, aktivis Gorontalo Frangkymax Kadir, menilai aparat penegak hukum tidak boleh menutup mata terhadap aktivitas yang diduga berlangsung terang-terangan. Lokasi PETI yag berdekatan dengan polsek Dulupi, seharusnya dapat ditindaki dengan tegas.
“Bagaimana mungkin yang berdekatan dengan Polsek tidak teridentifikasi oleh pihak kepolisian. Bisa saja lolos dari pantauan jika aparat yang ada di Polsek bukan dari kepolisian,” ungkap Frangkymax.
Ia menegaskan, jika dugaan aktivitas PETI tersebut benar adanya, kinerja aparat penegak hukum baik di tingkat Polres Boalemo maupun Polda Gorontalo, yang selama ini menyatakan telah melakukan penertiban, ternyata bertolak belakang dengan fakta dilapangan.
“Akan jadi lucu jika Kasat Reskrim Boalemo mengatakan bahwa pihaknya tidak tahu, atau pihak Polres baru mendapatkan informasi atas aktivitas PETI di Sambati. Sarna saya sudahi saja drama kolosal ini, kalau mau menindaki, silahkan tindaki secara menyeluruh. Jangan rusak moral kepolisian dengan kalimat-kalimat yang seolah-olah polisi tidak tahu.” Tegas Frangkymax
Frangkymax juga mendesak agar aparat kepolisian tidak hanya berhenti pada klarifikasi, tetapi segera turun langsung melakukan penindakan tegas di lapangan, termasuk mengamankan alat berat yang diduga digunakan dalam aktivitas PETI.
Hingga berita ini diterbitkan, BUTOTA berupaya melakukan konfirmasi kepada Kasat Reskrim Polres Boalemo Nurwahid Kiay Demak dan Kapolda Gorontalo, Irjen, Drs. Widodo,SH.,MH.[JFR]



















