BUTOTA, GORONTALO KOTA – Puskesmas Dumbo Raya terus menggenjot sistem jemput bola dalam melayani kesehatan masyarakat, khususnya di kawasan pesisir. Memasuki tahun 2026, faskes tingkat pertama ini memfokuskan kinerjanya pada deteksi dini penyakit menular lewat program Tracking TB dan Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Kepala Puskesmas Dumbo Raya, Lisnawaty Pakaya, S.KM, M.Kes, menjelaskan bahwa pihaknya kini tidak sekadar menunggu warga datang berobat, melainkan turun langsung ke permukiman.
“Untuk tahun 2026 ini kami memiliki program Tracking TB. Kami turun langsung berbaur dengan masyarakat untuk mendeteksi apakah ada warga yang mengalami batuk berkepanjangan,” ungkap Lisnawaty.
Langkah persuasif petugas rupanya membuahkan hasil positif di tengah masyarakat yang selama ini menganggap tabu penyakit tuberkulosis.
“Alhamdulillah, khusus Tracking TB ini sudah banyak masyarakat yang proaktif. Yang sebelumnya tertutup dengan sakitnya karena ini penyakit menular, sekarang sudah lebih terbuka dan meminta sendiri untuk diperiksa lebih lanjut,” tambahnya.
Selain memburu kasus TB, puskesmas juga menyasar kantong-kantong pekerja pesisir, nelayan, hingga tenaga kerja bongkar muat lewat layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Langkah ini menjadi deteksi awal penyakit seperti diabetes, hipertensi, hingga malaria.
“Melalui cek kesehatan gratis, kami bisa mengidentifikasi penyakit apa saja yang ada. Setelah itu kami tindak lanjuti melalui pemeriksaan berkala dengan mengelompokkan masyarakat sesuai penyakitnya,” kata Lisnawaty.
Terkendala Alat Medis dan Akses Jalan
Meski intensitas pelayanan di lapangan terus ditingkatkan, kelancaran operasional Puskesmas Dumbo Raya masih dihantui sejumlah masalah pelik. Salah satunya adalah kerusakan fasilitas medis, seperti kursi periksa gigi yang memaksa petugas berinovasi dengan alat seadanya.
“Kita terkadang terkendala alat-alat kesehatan. Ada beberapa alat yang sudah tidak bisa dipakai lagi. Proses pengajuan untuk pengadaan alat membutuhkan waktu, sementara pelayanan tetap harus berjalan,” keluhnya.
Persoalan tak berhenti di situ. Akses utama menuju puskesmas terhalang sehingga kendaraan operasional dan ambulans harus memutar melalui jalan belakang yang terlampau sempit. Kondisi ini kerap menyulitkan masyarakat maupun petugas, terutama dalam kondisi gawat darurat yang membutuhkan rujukan cepat.
Menutup keterangannya, Lisnawaty sangat berharap adanya intervensi dari instansi terkait.
“Kami berharap kondisi akses Puskesmas Dumbo Raya ini dapat diperhatikan oleh pemerintah daerah,” pungkasnya. [RAM/NA]





























