BUTOTA, GORONTALO KOTA – Pemerintah Kelurahan Bulotadaa Barat terus mengoptimalkan pemanfaatan dana kelurahan untuk membenahi sarana dan prasarana lingkungan, mulai dari perbaikan drainase, pengelolaan sampah, hingga penataan fasilitas umum.
Kepala Kelurahan Bulotadaa Barat, Aditya Zees, S.Stp, mengungkapkan perbaikan saluran air saat ini menjadi salah satu fokus utama. Terdapat lima titik saluran yang ditangani, termasuk pengerukan sedimentasi parah di Jalan Kapuas. Secara keseluruhan, progres serapan dana kelurahan telah mencapai 70 persen, yang juga mencakup proyek pembangunan pojok baca.
“Yang sekarang diprogramkan itu masalah saluran, karena ada beberapa saluran yang sudah terhambat atau tidak berfungsi lagi. Itu yang menjadi prioritas dalam pengembangan dana kelurahan,” kata Aditya.
Terkait penanganan kebersihan, pihak kelurahan juga telah menyiagakan armada motor roda tiga (getor). Kendaraan ini dioperasikan khusus untuk mengangkut tumpukan sampah di lorong-lorong sempit yang selama ini tidak bisa diakses oleh truk pengangkut dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), sekaligus mencegah kebiasaan warga membuang sampah ke sungai.
“Fungsi getor itu untuk menjangkau semua wilayah kelurahan, terutama daerah yang aksesnya sulit untuk kendaraan besar,” ujarnya. Bersamaan dengan itu, menyikapi cuaca panas kemarau saat ini, Aditya juga memberikan peringatan keras agar warga tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan guna menghindari musibah kebakaran.
Dari sisi administrasi, capaian penagihan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Bulotadaa Barat diklaim cukup tinggi, menyentuh angka 92 persen. Namun, upaya penagihan terus digenjot karena masih ditemukannya sejumlah penunggak pajak.
“Kami tetap melakukan penagihan. Kendalanya ada masyarakat yang menunda dengan alasan nanti akan dibayar mendekati jatuh tempo. Ada juga yang sudah lebih dari lima tahun menunggak,” paparnya.
Sementara itu, untuk menjamin penyaluran bantuan sosial pangan (beras) tepat sasaran di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok, aparat kelurahan saat ini gencar melakukan verifikasi data kemiskinan (desil) langsung di tengah masyarakat.
“Makanya kami turun ke lapangan untuk mendata orang-orang yang betul-betul kondisinya kurang mampu. Kalau ada masyarakat yang desilnya sudah naik sementara kondisinya masih seperti itu, kami usulkan untuk dilakukan penyesuaian,” jelas Aditya memungkasi. [RAM/NA]





























