Scroll untuk baca artikel
banner 350x300
Example floating
Example floating
Tajuk & Opini

Hari Pers Perayaan yang Terlalu Cepat Melupakan Luka

87
×

Hari Pers Perayaan yang Terlalu Cepat Melupakan Luka

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

Oleh : Risman Taharudin, S.I.K (CEO Komparasi Group)

BUTOTA – OPINI | Hari Pers selalu datang dengan cara yang sama, riuh. Twibbon mengganti wajah-wajah yang kemarin marah pada kritik. Banner ucapan berdiri tegak di ruang-ruang yang sebelumnya alergi pada liputan.

Advetorial

Kalimat “Selamat Hari Pers” mengalir deras, seolah pers adalah profesi yang sepenuhnya aman, dihormati, dan dilindungi. Padahal, ingatan kita belum sempat pulih dari kemarin.

Belum lama ini, publik menyaksikan bagaimana kritik jurnalistik Tempo terhadap Menteri Pertanian dibalas dengan nada tinggi dan kemarahan terbuka. Itu terjadi di pusat kekuasaan, direkam kamera, diperdebatkan publik. Tapi di daerah, peristiwa semacam itu jarang terdengar. Bukan karena tak terjadi, melainkan karena terlalu sering dibiarkan sunyi.

Jurnalis daerah hidup dalam ruang yang lebih sempit dan lebih rapuh. Diusir saat meliput sudah menjadi cerita biasa. Diminta menghapus foto, menurunkan video, bahkan menghapus karya yang telah terbit atau “mengamankan” berita adalah pengalaman yang nyaris rutin.

Ada jurnalis yang memberitakan Dugaan kemesraan seorang oknum anggota legislatif bukan gosip, melainkan fakta lapangan justru dilaporkan ke Dewan Pers. Ujungnya bukan klarifikasi, melainkan pemecatan dari medianya sendiri. Di titik itu, yang melukai bukan hanya tekanan kekuasaan, tetapi juga sunyinya solidaritas.

Kita juga menyimpan ingatan yang lebih gelap, seorang jurnalis pernah ditebas tangannya karena karya jurnalistiknya. Entah tahun berapa, entah di mana persisnya, tetapi peristiwa itu nyata. Ia menjadi penanda bahwa di negeri ini, kata-kata bisa dianggap ancaman, dan pena bisa dibalas dengan parang.

Hampir semua jurnalis, di Gorontalo maupun di luar sana, memiliki cerita serupa jika bukan kekerasan fisik, maka kekerasan psikologis yang dipendam sendirian.

Namun, anehnya, semua ingatan itu menguap ketika Hari Pers tiba. Luka kolektif mendadak dianggap selesai. Mereka yang kemarin mengenakan PDL partai, hari ini berganti twibbon “Selamat Hari Pers”. Yang sebelumnya gemar menekan, kini berdiri di barisan ucapan. Semua bergandengan tangan dalam sebuah pesta seremonial yang rapi, aman, dan jauh dari kegelisahan.

Di sinilah Hari Pers kehilangan maknanya. Hari Pers seharusnya menjadi hari mengingat, bukan hari melupakan. Ia semestinya menjadi ruang refleksi tentang siapa yang dibungkam, siapa yang dilindungi, dan siapa yang dibiarkan tumbang sendirian. Tetapi yang sering terjadi justru sebaliknya, perayaan menggantikan evaluasi, simbol menggantikan keberanian.

Dan pers sendiri tak sepenuhnya bisa lepas dari tanggung jawab itu. Kita jarang cukup jujur melakukan otokritik. Kita terlalu cepat berdamai dengan tekanan, terlalu mudah menukar keberanian dengan kenyamanan. Solidaritas sering berhenti pada pernyataan, tak sampai pada pembelaan. Jurnalis daerah kerap menjadi korban paling sunyi dituntut berani, tetapi dibiarkan sendiri saat risiko datang.

Maka pertanyaan tentang Hari Pers tetap menggantung, apakah ia masih tentang kemerdekaan, atau hanya tentang seremoni?

Jika Hari Pers tak sanggup menampung kegelisahan, tak berani menyebut luka, dan tak mau mengingat mereka yang disingkirkan oleh karyanya sendiri, maka ia hanya akan menjadi ritual tahunan indah di permukaan, kosong di kedalaman.

Ironisnya, justru pada hari yang katanya milik pers, keberanian itu sering absen. Yang hadir hanyalah pesta. Dan dari sanalah pertanyaan itu terus menggema, kita sedang merayakan hari pers, atau sedang merayakan lupa? [*]

Example 120x600
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *