Scroll untuk baca artikel
banner 350x300
Example floating
Example floating
Kota Gorontalo

Innovasi Gemak Wabugis hingga Tracking TBC: Terobosan Puskesmas Kota Barat untuk Kesehatan Warga

×

Innovasi Gemak Wabugis hingga Tracking TBC: Terobosan Puskesmas Kota Barat untuk Kesehatan Warga

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BUTOTA, GORONTALO KOTA – Puskesmas Kota Barat terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan penyakit menular, khususnya tuberkulosis (TBC) dan HIV. Selain pelayanan rutin, puskesmas juga mengembangkan program yang melibatkan lintas sektor hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.

Kepala Puskesmas Kota Barat, Susanty Potale, S.Km, M.Km, mengatakan salah satu program yang tengah diperkuat adalah tracking TBC yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Advetorial

“Untuk program TBC, kami ada inovasi puskesmas yang melibatkan lintas sektor. Kemudian ada program pemerintah untuk tracking TBC yang terintegrasi dengan CKG,” kata Susanty.

Iklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan Winnet

Dalam pelaksanaan tracking TBC, setiap kelurahan melibatkan sekitar 100 peserta untuk dilakukan pemeriksaan. Pemeriksaan tersebut mencakup pemeriksaan kesehatan dan pengambilan sampel dahak sebagai bagian dari upaya menemukan kasus TBC secara lebih dini.

Susanty mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah yang terus dilakukan untuk menekan angka kasus TBC sekaligus mencegah penularan di lingkungan keluarga.

“Kalau satu rumah ada penderita TBC, jangan sampai menyebar ke anggota keluarga yang lain. Itu yang terus kami lakukan,” ujarnya.

Sementara untuk HIV, Puskesmas Kota Barat juga melakukan pemeriksaan di sejumlah lokasi dengan melibatkan lintas sektor. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui kerja sama dengan kepolisian, TNI, kecamatan, kelurahan dan Dinas Kesehatan.

Susanty menyebut, di wilayah kerja Puskesmas Kota Barat saat ini terdapat sekitar 3 kasus HIV. Sementara jumlah pasien HIV yang terdaftar sekitar 30 orang, namun sebagian di antaranya berada di luar wilayah kerja puskesmas.

Meski program penanganan terus berjalan, tantangan yang dihadapi bukan hanya berkaitan dengan pelayanan medis. Stigma masyarakat terhadap HIV dan TBC masih menjadi salah satu persoalan yang perlu ditangani.

“Stigma masyarakat masih ada, bahwa penyakit ini memalukan atau penyakit yang tidak bisa sembuh. Itu yang terus kami gencarkan melalui penyuluhan supaya masyarakat bisa memahami dan mandiri untuk datang ke puskesmas,” jelasnya.

Menurut Susanty, pendekatan kepada masyarakat juga menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan. Tenaga kesehatan diharapkan dapat membangun hubungan yang lebih dekat dengan warga sehingga masyarakat tidak merasa ada jarak ketika ingin menyampaikan persoalan kesehatan yang mereka alami.

Untuk mengubah perilaku dan pemahaman masyarakat, kata Susanty, tidak cukup dilakukan melalui satu kali penyuluhan. Edukasi harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan unsur kecamatan dan kelurahan.

“Perubahan perilaku itu tidak langsung hanya dengan satu kali penyuluhan. Kegiatan harus dilakukan terus-menerus, kemudian unsur kecamatan dan kelurahan tetap kami libatkan,” katanya.

Selain penanganan penyakit menular, Puskesmas Kota Barat juga menjalankan program di bidang kesehatan lainnya. Salah satunya penanganan stunting dan kesehatan ibu hamil melalui inovasi Gemak Wabugis.

Program tersebut dilakukan dengan melibatkan lintas sektor. Puskesmas tidak bekerja sendiri, tetapi mengajak berbagai pihak untuk bersama-sama mendukung upaya penanganan stunting dan persoalan kesehatan ibu hamil.

Ke depan, Puskesmas Kota Barat akan terus memperkuat koordinasi dengan lintas sektor sekaligus meningkatkan pendekatan kepada masyarakat. Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong warga lebih terbuka dalam menyampaikan persoalan kesehatan dan memanfaatkan pelayanan puskesmas sejak dini. [RAM/NA]

Example 120x600
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *