Scroll untuk baca artikel
banner 350x300
Example floating
Example floating
Kota Gorontalo

Dinkes Kota Gorontalo Genjot CKG, Stunting, dan Pengendalian Penyakit Menular

×

Dinkes Kota Gorontalo Genjot CKG, Stunting, dan Pengendalian Penyakit Menular

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BUTOTA, GORONTALO KOTA –Dinas Kesehatan Kota Gorontalo terus memperkuat berbagai program pelayanan kesehatan masyarakat, mulai dari Cek Kesehatan Gratis (CKG), penanganan stunting dan gizi buruk, hingga pengendalian penyakit menular seperti HIV/AIDS, tuberkulosis (TBC) dan malaria.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Gorontalo, dr. Anwar Pasaribu, M.Km, mengatakan seluruh program tersebut saat ini masih berjalan dan menjadi bagian dari upaya pemerintah menekan angka kesakitan maupun kematian akibat penyakit menular dan tidak menular.

Advetorial

Salah satu program yang tengah menjadi perhatian adalah CKG yang merupakan program nasional. Pelaksanaannya dilakukan melalui seluruh puskesmas di Kota Gorontalo.

Iklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan WinnetIklan Winnet

Anwar menyebut salah satu capaian yang berhasil diraih ditunjukkan Puskesmas Dumbo Raya yang mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Provinsi Gorontalo karena mencatat capaian CKG tertinggi.

“Puskesmas Dumbo Raya mendapat penghargaan dari provinsi karena menjadi salah satu puskesmas dengan capaian CKG tertinggi di Provinsi Gorontalo,” kata Anwar.

Selain CKG, Dinas Kesehatan juga menjalankan intervensi terhadap persoalan stunting dan gizi buruk. Program tersebut dilakukan melalui pemberian makanan tambahan kepada anak yang mengalami stunting maupun gizi buruk serta ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi dan protein.

Pemberian makanan tambahan dan susu tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi ibu dan anak sehingga pertumbuhan anak dapat diperbaiki dan risiko stunting dapat ditekan.

Di sisi lain, pelayanan penanganan HIV/AIDS juga terus diperluas. Saat ini, sebanyak 10 puskesmas di Kota Gorontalo telah ditetapkan sebagai tempat pelayanan yang dapat menangani pasien HIV, mulai dari skrining, pemeriksaan hingga pengobatan.

Kondisi tersebut berbeda dengan sebelumnya, ketika puskesmas hanya melakukan skrining dan pemeriksaan awal, sementara pengobatan harus dilakukan di rumah sakit.

“Sekarang 10 puskesmas sudah bisa melakukan skrining, diagnosis sampai pengobatan HIV/AIDS. Jadi pasien tidak perlu lagi ke Rumah Sakit Aloei Saboe untuk mendapatkan pengobatan,” ujarnya.

Untuk penanganan TBC, Dinas Kesehatan juga memperkuat kegiatan skrining dengan menyasar masyarakat di rumah, sekolah maupun puskesmas. Setiap kali ditemukan satu pasien TBC, petugas akan melakukan pemeriksaan terhadap anggota keluarga yang tinggal serumah.

Pemeriksaan kemudian dapat diperluas kepada warga di sekitar tempat tinggal pasien. Langkah tersebut dilakukan untuk menemukan kasus sedini mungkin dan mencegah penularan lebih luas di masyarakat.

Anwar menjelaskan, pasien TBC yang telah menjalani pengobatan selama sekitar dua bulan umumnya sudah tidak menularkan penyakit, meski pengobatan tetap harus diteruskan hingga selesai sesuai ketentuan, yang dapat berlangsung enam hingga sembilan bulan.

“Semakin cepat ditemukan dan semakin cepat diobati, maka penularannya akan semakin sempit,” jelasnya.

Sementara untuk penyakit tidak menular, Dinas Kesehatan terus mendorong puskesmas melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya hipertensi, diabetes, obesitas, stroke hingga penyakit jantung.

Menurut Anwar, penyakit tidak menular menjadi perhatian serius karena dapat menyebabkan komplikasi dan menjadi salah satu penyebab utama kematian. Edukasi dilakukan dengan menyasar sekolah, rumah tangga hingga berbagai institusi.

Dalam pelaksanaan program, sejumlah capaian telah terlihat. Selain penghargaan yang diraih Puskesmas Dumbo Raya dalam program CKG, Dinas Kesehatan juga memantau kondisi penyakit menular seperti malaria.

Anwar mengatakan hingga saat ini belum ditemukan indikasi adanya penularan malaria di wilayah Kota Gorontalo. Kasus yang ditemukan umumnya berasal dari warga yang sebelumnya bekerja atau berada di daerah endemis, kemudian kembali ke Kota Gorontalo.

“Alhamdulillah di kota sampai hari ini belum ditemukan terjadi penularan. Pasien-pasien yang datang umumnya hanya pasien transit,” katanya.

Meski demikian, pelaksanaan program kesehatan masih menghadapi sejumlah kendala. Dalam program CKG, misalnya, sempat terjadi kekurangan beberapa bahan medis habis pakai, termasuk stik untuk pemeriksaan.

Namun, menurut Anwar, kebutuhan tersebut mulai terpenuhi setelah adanya dukungan dan dropping peralatan dari Kementerian Kesehatan. Dengan demikian, puskesmas kembali dapat melaksanakan CKG sesuai standar.

Kendala lain ditemukan dalam penanganan HIV. Masih terdapat sebagian pasien yang belum dapat menerima kondisi dirinya sehingga enggan menjalani pengobatan. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko penularan.

Karena itu, Dinas Kesehatan bersama puskesmas terus memperkuat promosi kesehatan dan edukasi kepada masyarakat. Anwar juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang tidak benar atau hoaks terkait kesehatan.

Ke depan, seluruh program yang telah berjalan akan terus diperkuat melalui evaluasi rutin. Evaluasi dilakukan tidak hanya di tingkat Dinas Kesehatan, tetapi juga melalui pertemuan lintas sektor di tingkat puskesmas.

Dalam evaluasi tersebut, program yang capaiannya masih rendah akan dibahas bersama pemerintah kecamatan, kelurahan, tokoh masyarakat, tokoh agama, kader serta unsur terkait lainnya untuk mencari solusi dan meningkatkan capaian.

“Kesehatan ini tidak bisa dilakukan hanya oleh satu sektor. Harus lintas sektor. Karena itu kami mendorong puskesmas selalu bekerja sama dengan lintas sektor untuk menuntaskan masalah-masalah kesehatan,” pungkas Anwar. [RAM/NA]

Example 120x600
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *